RASULULLAH SAW PENDIRI MADZHAB SYIAH, TINJAUAN NORMATIF MENGAPA MEMILIH MADZHAB SYIAH Landasan Syiah dalam Periwayatan Ahlu Sunnah(1)

RASULULLAH SAW PENDIRI MADZHAB SYIAH, TINJAUAN NORMATIF MENGAPA MEMILIH MADZHAB SYIAH
Landasan Syiah dalam Periwayatan Ahlu Sunnah(1)

Bismillhirrahmanirahim
Allhumma sholi ala muhammad wa  ali muhammad

Pendahuluan

Tulisan ini diterbitkan untuk memenuhi permintaan dari ikhwan atau akhwat, yang menginginkan sebuah senerai tulisan yang berisikan sebuah kajian tentang alasan mengapa seseorang memilih madzhab syi’ah. Meski terkatagorikan hal yang sulit namun tidak ada jeleknya kami mencoba membuat sebuah tulisan, yang secara sistematis, menjelaskan alasan-alasan seseorang memilih madzhab syi’ah. Tulisan ini sedapat mungkin menggunakan sumber-sumber yang berasal dari jalur periwayatan yang bersumber dari kalangan ulama ahlu sunnah wal jama’ah sehingga denganya dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya pesan tentang Madzhab syi’ah  sebetulnya tersimpan secara melimpah dari sumber-sumber ahlu sunnah.Harapan kami semoga dengan tulisan ini dapat menjelaskan kepada khalayak ramai tentang madzhab syiah dan semoga dapat diambil manfaatnya.

Pengertian Syi’ah

Madzhab syi’ah dalam tulisan ini memiliki padanan istilah yakni,  madzhab ahlul ba’it, syi’ah imamiyah ataupun syi’ah Itsna asyariah, dan kemudian disingkat dengan syi’ah.  Secara umum syi’ah didifinisikan sebagai partisan atau pengikut, pengertian khususnya adalah, kaum muslimin yang menganggap pengganti  Rasulullah SAW merupakan hak istimewa  keluarga Nabi SAW (Ahlul Ba’it) dan mereka yang dalam pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti madzhab Ahlul Ba’it [1]
Ayatullah Sayyid Muhammad al Musawi menjelaskan pula bahwa syi’ah berarti pengikut atau pembela. Al Fairuzabadi dalam al Qamus  menjelaskan syi’ah berasal dari kata Sya’a, dan ia menjelaskan sebagai syi’atur rajul, yang merupakan para pengikut dan pembela seseorang dan dalam konteks tertentu berarti kelompok  ini berlaku untuk satu orang, atau dua orang laki-laki dan perempuan. Namun, pada umumnya kata ini digunakan dalam arti setiap orang yang setia kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Ba’it sehingga menjadi julukan khusus bagi mereka, Bentuk jamaknya adalah asyya dan syiya[2]. Sedangkan istilah syi’i berarti penganut syi’ah. Penganut syi’ah juga disebut dengan sebutan tasyayyu, yang artinya menganut paham sebagaimana yang terdapat dalam syi’ah yang telah berbentuk madzhab tertentu [3]

Isu Abdullah bin Saba’ sebagai Pendiri syi’ah

Sebagian orang menuduh bahwa syi’ah tercipta dari kreasi seorang Yahudi yang memiliki dendam kusumat terhadap Islam, orang tersebut kemudian memeluk Islam guna menghancurkan Islam dari dalam. Orang Yahudi tersebut bernama Abdullah bin Saba’. Menurut penulis kitab al Milal wa Nihal [4], As Syahrastani,  Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari kota Shan’a, Yaman dan  Syahrastani merupakan orang pertama yang menyebut Abdullah bin Saba’ sebagai orang Yahudi [5] Penyebutan Abdullah bin Saba’ sebagai orang Yahudi sebetulnya tidak tepat, sebab namanya dan nama ayahnya jelas menunjukan nama Arab bukan nama-nama  Yahudi.  Nasab Abdullah bin Saba’ tidak diketahui dan masa lalunya pun gelap pula. [6]
Cerita Abdulah bin Saba’ ini lebih tepat di sebut dongeng ketimbang cerita kenyataan. Ada beberapa sebab yang menjadi alasan bahwa kisah Abdulah bin saba’ ini disebut sebagai ”mitos”, yang secara sengaja diciptakan untuk melakukan pembunuhan karakter  dan pendiskriditan terhadap para pengikut Imam Ali dan Ahlul Ba’it Rasulullah Beberapa. alasan  akan menjadi obyek kajian tulisan ini.
Kejanggalan dari cerita Abdullah bin Saba’ ini,  setidaknya dapat dilihat dari tiga hal [7], Pertama  Bagi manusia yang berakal sehat – dengan  tidak dikotori kepicikan berfikir, pen-  tak mungkin menganggapnya kisah Abdullah bin Saba’ dapat dipercaya,  bagaimana mungkin seorang Yahudi yang baru  masuk Islam memiliki keterampilan politik yang luar biasa dan dengan kemampuanya mempengaruhi pribadi-pribadi kaum muslim yang mulia seperti : Abu Dzar al Ghifari, Muhammad bin Abu Bakar (putra khalifah I adik Ummul Mukminin’Aisyah), Ammar bin Yasir, Sha’sha’ah bin Shauhan, Muhammad bin Abu Hudzaifah, Abdurahman bin ”udais, Malik Asytar untuk melakukan agitasi dan propaganda pemberontakan pada khalifah ke III ? dan para sahabat yang mulia ini mengekor begitu saja ?  Kedua  adalah hal yang mustahil orang yang baru saja masuk Islam (apalagi dari kalangan Yahudi) kemudian menjalankan dan mengorganisasikan pemberontakan  tanpa para sahabat bertindak keras mencegah terjadinya perpecahan di dalam tubuh Islam dan   ketiga  Adalah hal yang aneh Seorang yahudi yang baru masuk Islam bisa memulai menghancurkan agama islam tanpa seorang muslim pun peduli.

Dari mana sumber cerita Abdullah bin Saba’ ?

Seorang sarjana muslim bernama  As Sayyid Murthadha al Askari, telah melakukan penelitian terhadap kisah Abdullah bin Saba’ . Dan hasil penelitiannya dibukukan dengan judul ’Abdullah bin Saba’ wa Asathir  Ukhra (’Abdullah bin Saba’ dan Dongeng-Dongeng Lain) serta  buku yang diberi judul ”Khamsun wa Mi’ah Shahabi Mukhthalaq” (Seratus Lima Puluh Sahabat  Fiktif). Menurut al Askari, sumber utama terciptanya kisah Abdullah bin Saba’  adalah  seseorang yang bernama Sayf Ibn Umar at Tamimi (meninggal 170 H).  Say ibn Umar at Tamimi telah menciptakan tokoh fiktif bernama Abdullah bin Saba’ dalam  bukunya al Jamal wa mashiri ”ali wa ”Aisyah dan al Futuh al Kabir wa ar Riddah.  Dari buku tersebut lalu menyebarlah cerita tentang Abdullah bin Saba’ ke penulis-penulis Islam sesudahnya. Penyebaran kisah Abdullah bin Saba’ sedemikian masiv, sehingga buku-buku sejarah Islam diwarnai oleh cerita palsu tentang Abdullah bin Saba.

Bagaimana Dongeng Abdullah bin Saba’ dapat beredar luas ?

Peredaran dongeng Abdullah bin Saba’ tersebar melalui penulis sejarah seperti Thabari (wafat 310 H) Ibn ’Asakir (wafat 571 H) Ibn Abi Bakr (w 741 H) dan adz Dzahabi (wafat 748), dari merekalah kemudian dongeng Abdullah bin Saba’  tersebar ke generasi-generasi sesudahnya. Berikut adalah  peredaran cerita Abdullah bin Saba’ ( untuk lebih jelasnya lihat Gambar Skema Penyebaran Kisah Abdullah bin Saba’) :

a. Berikut adalah sejahrawan yang mengutip cerita Abdullah bin Saba’ langsung ke kedua kitab karya sayf tersebut:
1. al Thabari, ia menyatakan sendiri dalam kitab tarikhnya bahwa ia mengutip kisah Abdullah bin saba’ dari Syaif  Ibn Umar at Tamimi.
2. al-Dzahabi, ia mengutip dari syaif  dan ia juga menyebutkan bahwa ia mengutip dari al Thabari (1).
3. Ibn Abi Bakir, ia mengutip dari  Ibn Atsir (15) yang mengutip dari Thabari (1)
4. Ibn Asakir mengutip langsung dari buku syaif Ibn Umar at Tamimi.

b. Berikut adalah sejahrawan yang mengutip secara tidak langsung  cerita Abdullah bin Saba karya sayf.

1.    Nicholson mengutip dari al-Thabari (1)
2.    Ensiklopedia Islam karya al Thabari (1)
3.    Van Floton mengutip dari al Thabari (1)
4.    Wellhauzen mengutip dari al Thabari (1)
5.    Mirkhand mengutip dari Thabari (1)
6.    Ahmad Amin mengutip dari Thabari (1) dan dari wellhauzen (8)
7.    Farid Wajdi mengutip dari Thabari (1)
8.    Hasan Ibrahim mengutip dari Thabari (1)
9.    Said Afghani mengutip dari al Thabari (1), Ibn Abi Bakir (3), Ibn Asakir (4), dan Ibn Bardan (18)
10.    Ibn Khaldun mengutip dari al Thabari (1)
11.    Ibn Atsir mengutip dari al Thabari (1)
12.    Ibn Katsir  mengutip dari al Thabari
13.    Donaldson mengutip dari Nicholson (b2) dan dari eksiklopedia al Thabari (b2)
14.    Ghiath al Din mengutip dari Mirkhand (9)
15.    Abu al-Fida menutip dari Ibn Atsir (11)
16.    Rasyid Ridha mengutip dari Ibn Atsir (11)
17.    Ibn Bardan mengutip dari Ibn Asakir (4)
18.    Bustani mengutip dari Ibn Katsir (16)

Para penulis kontemporer pada akhirnya banyak yang mengutip cerita-cerita Abdullah bin Saba’ melalui penulis di atas, sekedar menyebutkan sebagian buku yang terkenal  yang menuliskan Abdullah bin Saba’ (dan syiah) diantaranya adalah sebagai berikut :

1.    Muhammad Rasyid Ridha, dalam bukuya As Sunnah wa Asy Syi’ah , ia mengatakan : ” Tasyayyu terhadap khalifah ke empat ”Ali bin Abi Thalib” adalah pangkal perpecahan umat Muhammad dalam agama dan politik mereka. Pencetus dasar-dasarnya dalah seoranng Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, ia menganjurkan kepada yang berlebih-lebihan (ghuluw) tehadap Ali dengan tujuan memecah belah umat ini serta merusak agama dan urusan dunia”. Rasyid Ridha mengambil rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari  Ath Thabari.
2.     Ahmad Amin dalam Fajar Islam dan Dhuha Islam, dalam bukunya dituliskan ” Akidah syi’ah tentang wasiat dan Raja’ah diambil dari Ibnu Saba’ adapaun konsep  Mahdi al Muntazhar diambil dari ajaran Yahudi melalui Ibnu Saba’. Abu Dzar al Gfhifari mengambil pemikiran tentang sosialisme dari Ibnu Saba’, dan Ibnu saba’ mengambilnya dari ajaran Mazdakiyah yang tersebar di masa kekuasaan bani Umayyah, dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa syi’isme adalah benteng bagi semua orang yang ingin menghancurkan agama Islam”. Tetapi kemudian Ahmad Amin meralat pendapatnya, setelah Ahmad Amin bertemu dengan Ayatullah Muhammad Husain Kasyif al Ghitha.  dan  kemudian Ahmad Amin menyatakan permintaan maaf kepada  Muslim Syi’ah [8] Ahmad Amin menyebutkan ia mengambil sumber rujukan kisah Abdullah bin Saba’ ini dari Ath Thabari
3.    Dr  Hasan Ibrahim  Hasan dalam bukunya Tarikh al islam as Siyasi. Ia menuliskan dalam bukunya sebagai berikut : ” Abdullah bin Saba’   mempengaruhi seorang sahabat besar ahli hadis, ia adalah abu Dzar al Ghifari untuk melakukan pemberontakan menetang Utsman dan Muawiyyah”  Ia menyebutkann sumber cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.
4.    Syekh Abu Zuhrah ”Tarikh al Madzahib al islamiyah.  Ia menuliskan dalam bukunya : ” Abdullah bin Saba’  mengatakan bahwa ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki wasi, dan Ali adalah wasi Muhamma. Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali penutup para washi” [9} ia mengutip cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari
5.    Farid Wajdi  dalam bukunya Dairah Ma’arif al Qarn’Isyrn”  cerita Abdullah bin saba’ diambil dari sumber yang sama yakni Ath Thabari
6.    Ahmad ’Athiyatullah, ” al Qamus al islami”  ia menuliskan “ Ibnu Saba’ adalah pimpinan sekte as saba’iyah dari kalangan syi’ah. Ia dikenal dengan anam Ibnu as Sawda’” Ia pun mengambil sumber cerita Abdullah bin Saba’ dari Ath Thabari.

Sedangkan  kutipan-kutipan cerita Abdullah bin Saba’ yang beredar di indonesia dalam bentuk artikel di majalah ataupun buku-buku  relatif banyak – terutama buku-buku yang diterbitkan oleh kelompok-kelompok nawashib yang membenci Ahlul Ba’it,  Seperti buku Mengapa Kita Menolak Syi’ah yang diterbitkan oleh LPPI , Tikaman Syi’ah, Gen Syi’ah dan lain sebagainya.  Dari sekian artikel kami hanya akan menyebut dua saja, karena kedua artikel inilah yang akan di bahas dalam tulisan ini, yang sekaligus meluruskan kisah Abdullah bin Saba’ yang terdapat dalam buku-buku  lain”

1.    Artikel berjudul : Abdullah Bin Saba’ Tokoh Fiktif ?” ditulis leh Ma’Had dan Majalah al Muslimun – majalah Hukum dan Pengetahuan Islam- Bangil No 217 Sya’ban/Ramadhan 1408 April 1988. Halaman 16-20 Serta Majalah Suara Masjid
2.    Abdullah Bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif Karya Dr Sa’diy Hasyimi.

Menimbang Jarh dan Ta’dil Si Pencipta Abdullah Bin Saba’ Syaif Ibnu Umar At Tamimi

Telah kami sebutkan diatas secara singkat, bahwa  Abdullah bin Saba’ adalah tokoh hasil rekayasa dari orang yang bernama Syaif Ibnu Umar at Tamimi - Sang kreator manusia fiktif bernama Abdullah bin Saba’-  ia mati pada masa khalifah Harun al Rasyid, ia dikenal sebagai orang yang membenci ahlul ba’it (nawashib). seperti telah kami sebutkan diatas, ia menulis dua buah buku yang didalamnya terdapat tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ - al Jamal wa mashiri ”ali wa ”Aisyah dan al Futuh al Kabir wa ar Riddah.  Murthadha Al Askari menyebutkan dalam bukunya “ Syaif at Tamimi telah memalsukan riwayat Nabi SAW dengan menciptakan sahabat-sahabat yang tidak pernah ada dalam sejarah, nama-nama tersebut adalah nama fiktif yang tidak pernah ada orangnya” Murthada al Askari menyebutkan ada 150 sahabt fiktif tersebut, diantaranya ada yang bernama Sa’r, Al Hazhhaz, Uth, Hamdhan dan lain sebagainya termasuk Abdullah bin Saba’.

Kitab Tarikh al Umm wa al Muluk karya Ibnu Jarir Ath Thabari adalah sumber tertua kisah Abdullah bin Saba’. Ath Thabari hanya bersandar pada perawi tunggal, Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Sedangkan jalur yang menyambungkannya kepada Syaif hanya dua yaitu :

1.    Ubaidullah bin Sa’id az Zuhri dari  pamanya yang bernama Ya’qub bin Ibrahim dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi. Kisah Abdullah bin Saba’ ia nukil dari jalur ini secara lisan.
2.    As Surri (Abu Ubaidah) bin Yahya dari Syu’aib bin Ibrahim dari Syaif Ibnu Umar at Tamimi.  Kisah Abdullah bin Saba’ ia nukil melalui kitab Al Futuh wa Ar riddah dan Kitab al Jamal wa Masir ‘Aisyah karya syaif ibnu Umar at Tamimi, dan terkadang ia mengutip secara lisan.

As Surri  bin Yahya yang dimaksud dalam jalur periwayatan di atas bukanlah Ats Surri bin Yahya  seotang perawi yang terkenal tsiqah. Sebab masa hidup Ats Surri bin Yahya yang tsiqah  itu lebih awal dari ath Thabari. Ia wafat tahun 167 H. Sementara Ath Thabari baru lahir tahun 224 H  Selisih antara wafat As Surri dan kelahiran ath Thabari adalah 57 tahun.[10]Penelusuran para ulama menyebutkan bahwa, tidak ada seorang perawi yang bernama As Surri bin Yahya selain dia. Oleh karenanya, ada yang mengasumsikan bahwa as Surri yang menjadi perantara periwayatan ath Thabari adalah salah satu dari dua perawi yang keduanya adalah pembohong dan cacat di mata ulama :

1.    As Surri bin Ismail al Hamdani al Kufi.
2.    As Surri bin ’Ashim al Hamdani (seorang imigran yang tinggal di kota Bghdad) wafat tahun 258 H dan ath Thabari hidup sezaman denganya selama tiga puluh tahun lebih. [11]

Mayoritas ulama (ahlu Sunnah) memandang kredibilitas (Jarh wa Ta’dil) Syaif Ibnu Umar at Tamimi  sebagai tidak bernilai [12]. Diantara komentar para ulama Jarh wa ta’dil adalah sebagi berikut

1.    Yahya bin Muin (wafat 233 H)  berkata tentang Syaif Ibnu Umar at Tamimi :”Riwayat  syaif lemah dan tidak berguna,  uang sesen lebih berharga daripada dirinya ” .
2.    Abu Daud ( wafat 316 H)  berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi : ”Syaif bukan seorang yang dapat dipercaya. ia adalah seorang pembohong (al Kadzdzab), ia tidak berarti sedikitpun, beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak”.
3.    Ibn Hibban (wafat 354 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi :” Sayf meriwayatkan  hadis-hadis palsu  dan menisbahkan pada  perawi – perawi yang sahih. Ia dianggap sebagai seorang pembid’ah dan pembohong serta pemalsu hadits”.
4.    Ibn Abd Barr (wafat 462H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  : ”beliau menulis tentang al Qa’qa,  dimana syaif berbohong”.
5.    Al Daruquthni (wafat 385 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  : ”Riwayat yang disampaikan syaif lemah”.
6.    Firuzabadi (wafat 817H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  :” Riwayat yang syaif sampaikan lemah”.
7.    Ibn al Sakan (wafat 353 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi : ”Riwayat syaif lemah”
8.    Ibn Adi (wafat 365 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi : ” Ia lemah, sebagian hadisnya mashut, akan tetapi sebagian besar darinya tidak terdukung riwayat yang ia sampaikan lemah dan tidak digunakan”.
9.    Al Suyuthi (wafat 900H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  : ”Hadis yang disampaikan syaif lemah”.
10.    Ibnu Hajar al Asqalani (wafat 852) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  setelah  menyebut sebuah hadis yang pada silsilah perawinya terdapat nama Syaif ibnu Umar at Tamini : ” Dalam hadis banyak perawi lemah  (dhaif) dan yang paling lemah diantara mereka adalah sayf”
11.    Ibn Abi Hatam (wafat 327 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi:  ”Para ulama telah mengabaikan riwayat yang disampaikan syaif ”
12.    Safi al Din (wafat 923 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi : ” riwayat yang disampaikan sayf dianggap lemah  (dhaif)”.
13.    Al Hakim ( wadat 450 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  :”Sayf adalah seorang ahli bid’ah riwayatnya diabaikan”.
14.    Al Nas’i (wafat 303 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  : ”Riwayat yang disampaikan Syaif lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan     karena tidak dapat dipercaya dan tidak berdasar”.
15.    Abu Hatam (277 H) berkata tentang Syaif ibnu Umar at Tamimi  : ”Hadis yang diriwayatkan sayf harus ditolak”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  cerita Abdullah bin Saba’  adalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh Syaif ibnu Umar at Tamimi, sebagaimana dinyatakan oleh Dr Ahmad al Wa’ili : ” Para peneliti menyebutkan bahwa ath Thabari menukil 701 riwayat sejarah yang meliputi berbagai peristiwa yang mewarnai masa kekhalifahan ketiga khalifah pertama. Kesemuanya ia nukil dari jalur As Surri si pembohong, dari Syu’aib yang misterius keperibadianya dan dari Syaif yang ditolak oleh para ulama  menolaknya ” [13]

Riwayat Abdullah bin Saba’ yang tidak melalui jalur Syaif at Tamimi

Majalah al Muslimun  pada edisi No 217 Sya’ban/Ramadhan 1408 April 1988. Halaman 16-20 menuliskan sebuah artikel berjudul : Abdullah Bin Saba’ Tokoh Fiktif ?”, diantaranya dapat kami kutipkan sebagai berikut :

” ….Dari kalangan sunni  al Hafizh Ibnu Hajar al ’Asqalani dalam bukunya Lisanul Mizan (Jilid III hal 289-290 Cetakan I Tahun 1330 H) meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba’ melalui enam jalur tanpa melalui Syaif Ibnu Ummar at Tamimi, yaitu :
1.    Dari ’Amr bin Marzuq, dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahab dari Ali Bin Abi Thalib ra”
2.    Dari Abu Ya’la al Mushili, dari Abu Kuraib, dari Muhammad bin Hasan al Aswad, dari Harun bin Shalih, dari al Harits bin Abdurrahman dari Abu Jallas dari Ali bin Abi Thalib.
3.    Dari Abu Ishaq al Fazari bin Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Za’ra’i,  dari Zaid bin Wahab.
4.    Dari al isyari dan al Alka’i dari Ibrahim dari Ali bin Abi Thalib.
5.    Dari Muhammad bin Utsman Abu Syaibah dari Muhammad bin al Ala’i dari Abu Bkar Ayyasy dari Mujahid dari Asy Sya’bi.
6.    Dari Abu Nu’aim, dari Ummu Musa (Yusuf al Kandahlawi, Hayatush Shahabah)…”

Dengan mengutip pendapat dari al Hafizh Ibnu Hajar al ’Asqalani tersebut,  Majalah al Muslimun bermkasud mematahkan argumen bahwa Abdullah bin Saba’ bukan tokoh fikitf melainkan tokoh riel yang ada orangya. Namun sungguh sayang disayang, ada kealpaan-kalau tidak mau dikatakan sebagai ketidak jujuran-. Bahwa dalam pengutipan tersebut terdapat distorsi. Entah sengaja maupun tidak disengaja pihak Majalah al Muslimun telah menghilangkan pandangan akhir dari al hafizh Ibnu Hajar al ’Asqalani yang menyebutkan seluruh riwayat tersebut dinyatakan oleh Ibnu hajar sebagai tidak bernilai  (wa laysat lahu riwayatun) dan distorsi kedua, pihak majalah al Muslimun telah menambahkan  jalur periwayatan yang tidak pernah ditulis oleh Ibnu Hajar al ”Asqalani dalam kitabnya Lisanul Mizan,  jalur yang tidak disebutkan dalam lisanul mizan yang dimuat dalam majalah al Muslimun yaitu, dari al isyari dan al Alka’i dari Ibrahim dari Ali bin Abi Thalib (No 4) dan dari Abu Nu’aim, dari Ummu Musa (Yusuf al Kandahlawi, Hayatush Shahabah)…” (No 6) jalur ini tidak termuat dalam kitab Ibnu Hajar. Agar lebih adil akan kami kutipkan terjemahan dari kitab Lisanul Mizan Jilid III hal 289-290 yang ditulis oleh al Hafizh Ibnu Hajar al ’Asqalani :

”…Ibnu ”asakir berkata dalam Tarikh-nya, ”Ia seorang Yahudi yang berasal dari Yaman. Ia menampakkan keislamanya dan menjelajahi negeri-negeri kaum Muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada para pemimpin, dan memasukan kejelekan (syarr) diantara mereka. Ia memasuki Damaskus dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sama”. Ibnu ’Asakir kemudian meriwayatkan sebuah cerita panjang dari Syaif Bin ’Umar at Tamimi dalam kitab al Futuh yang tidak sahih sanad-sanadnya. Dan melalui Ibnu Abi Khaitsamah, dari Muhammad bin ’Ibad, dari Syufyan bin ’Ammar ad-Dhni, saya mendengar Abu Thufail berkata, ”Saya melihat al Musyayab bin Najabah membawa … (barangkali adasatu atau beberapa kalimat yang hilang-pentashih kitab) … ia masuk ke mimbar kemudian berkata tentang sesuatu, kemudian ia berkata, ”Ia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya”. Telah menceritakan kepada saya ’Amr bin Mazruq dari , dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahab ia berkata, bahwa Ali Bin Abi Thalib ra berkata ” Aku berlepas diri dari orang kotor ini, si Aswad (artinya ”abdullah bin Saba’ perawi, pen). Ia menuduh jelek kepada Abu Bakar dan Umar ra..” dan melalui Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah dari Muhammad bin al ”Ala’ dari Abu Bakar bin ’Iyasy dari Majalid dari asy Sa’bi iaberkata, ”Orang yang pertama-tama berdusta adalah ’Abdullah bin Saba’” . Abu Ya’la al Mushili berkata dalam Musnadnya dari Abu Kuraib dari Muhammad bin al hasan al Asadi dari Harun bin Shalih dari al harits bin ’Abdur –Rahman dari Abi Jallas, saya mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’, ”Demi Allah, apa yang disampaikan kepada sya (oleh Rasulullah saw ini-pentashih kitab) adalah sesuatu yang disembunyikannya terhadap seseorang dari manusia. Dan sungguh saya telah mendengar beliau bersabda, ’Seseungguhnya ketika mendekati hari kiyamat ada tiga puluh pendusta, dan kamu adalah satu diantaranya”.  Abu Ishaq al Fazari berkata dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abi Za’ra dari zaid bin Wahab bahwa Suwaid bin Ghaflah menemui Ali dalam sebuah iamarah-nya, kemudian ia berkata, ”Sesungguhnya saya melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar. Mereka berpendapat bahwa anda menyembunyikan seseuatu perkara terhadap keduanya, seperti itu. Termasuk kelompok itu adalah ”abdullah bin Saba’. Sementara, orang yang pertama kali menampakan hal seperti itu adalah ’Abdullah bin Saba;. Kemudian Ali berkata, ”Aku berlepas diri daro kekotoran si Aswad ini” Kemudian Ali berkata ” Saya berlindung kepada Allah bahwa aku menyembunyikan sesuatu perkara terhadap keduanya, hanyalah kebaikan dan kebagusan”. Kemudian ’Ali mengutus orang kepada ’Abdullah bin Saba, dan ia diusir ke Mada’in. Dan Ali berkata, ”Jangan sampai ia berdiam bersamaku dalam satu negeri untuk selama-lamanya” Kemudian ’Ali naik mimbar sehingga orang-orang pada berkumpul, kemudian ’Ali menceritakan  cerita itu ditengah kerumunan orang-orang dan memuji keduanya (Abu Bakar dan Umar – pen) dengan panjang lebar. Dan pada Akhirnya ’Ali berkata, ” Ingatlah, jika sampai ada orang yang melebihkan saya melebihi keduanya maka pasti saya akan mencambuknya sama dengan hukuman had bagi orang-orang yang memfitnah”. Berita-berita tentang ’Abdullah bin Saba’ dalam sejarah sangat terkenal, tetapi tidak (satupun) bernilai riwayat (wa laysat lahu riwayatun) Dan segala puji bagi Allah…”

Itulah kutipan dan terjemahan panjang dari pandangan al Hafizh Ibnu Hajar yang menolak seluruh riwayat berkenaan dengan kisah ”Abdullah bin saba’ baik melalui jalur Syaif Ibnu Umar at Tamimi maupun yang diluar jalur Syaif . Sebetulnya selain yang disebutkan oleh Majalah al Muslimun masih ada lagi  cerita Abdullah bin Saba’ yang tidak melalui Sya’if Ibnu Umar at Tamimi, yaitu :

1.    Kitab ”Maqalat al Islamiyyin (Esai mengenai Masyarakat Islam) ditulis oleh ’Ali Ibn Isma’il al Asy’ari.
2.    Kitab al Farq Bain  al Firaq  (Perbedaan diantara aliran-aliran) karya ’Abd al Qahir Ibn Thahir al Baghdadi.
3.    Muhammad Ibn ’Abd al Karim al Syahrastani (548) dalam bukunya ”al Milal wa Nihal (Negara dan Kebudayaan).
4.    Kitab Syarh Nahjil-Balaaghah karya Ibnu Abil al hadid. yang menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Saba’ pernah berdiri ketika ‘Ali bin Abi Thalib sedang berkhutbah. Lalu ia (Ibnu Saba’) berkata :أنت أنت، وجعل يكررها، فقال له – علي – : ويلك من أنا، فقال : أنت الله، فأمر بأخذه وأخذ قوم كانوا معه على رأيه. “Engkau, engkau’. Ia (Ibnu Saba’) mengulang-ulang perkataan itu. Maka ‘Ali berkata kepadanya : “Celaka kamu, siapakah diriku ?”. Ibnu Saba’ menjawab : “Engkau adalah Allah”. ‘Ali pun memerintahkan untuk menangkapnya dan orang-orang yang sependapat dengannya”. [Syarh Nahjil-Balaaghah, 5/5].

Tetapi di dalam keempat kitab tersebut [14], para penulisnya tidak memberikan Isnad jalur periwayatan kisah tersebut, serta tidak disebutkan sumber riwayat sehingga validitas ceritanya tdak dapat diuji kebenaranya. Pada ketiga buku tersebut, cerita Abdullah bin Saba selalu diawali dengan ”Beberapa orang (?) berkata …(demikian demikian)”  atau ”Beberapa ulama (?) berkata (ini dan itu) ” tidak disebutkan siapa orang itu atau siapakah ulama itu . Sehingga pengujian kebenaran tentang cerita Adullah bin saba’ dalam kitab tersebut tidak mungkin dilakukan sehingga ceritanya lebih layak untuk diragukan. Bahkan para penulis kadang terlampau berlebihan dalam  memperkaya dongengan tersebut, misalnya dalam kitab tersebut dituliskan terdapat aliran-aliran yang sukar dicari rujukan validitasnya  seperti al kawusiyyah, al tayyarah, al Mamturah, al gharabiyyah, al ma’lumiyyah dan lain sebagainya. Hampir semuanya ditulis dengan tanpa menyertakan sumber atau referensinya, sehingga nyaris sebagai cerita rekayasa.  Pada kitab al Milal Wa Nihal bahkan didapatkan cerita yang nyaris mengarah ke fiksi,  ” …ada sekelompk makhluk setengah manusia bernama al Nas-Nas, dengan wajah separuh, satu mata, satu tangan dan satu kaki. Umat Islam dapat berbicara dengan makhluk-makhluk ini dan bahkan dapat bertukar puisi. Beberapa orang islam bahkan sering memburu mereka dan memakanya. Makhluk-makhluk ini  dapat melompat  lebih cepat dari pada seekor kuda dan mereka memakan rumput…” Sehingga keabsahan cerita Abdullah bin Saba’ dalam kitab tersebut diragukan kebenaranya.

Riwayat Abdullah Bin Saba’ dalam Khazanah Kitab Syi’ah

Khazanah kepustakaan syi’ah terdapat pula kisah-kisah yang bercerita tentang Abdullah bin Saba, diantaranya kami kutipkan dari Majalah al Muslimun  pada edisi No 217 Sya’ban/Ramadhan 1408 April 1988. Halaman 16-20. :

”Diantara isyu-isyu yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ ialah :

1.    Bahwa Ali bin Abi Thalib menerima washiyat sebagai pengganti Rasulullah saw (dikutip dari An Nubakhti. Firaq As Syi’ah hal 44)
2.    Bahwa Abu Bakar. Umar bin Khatab dan Utsman bin Affan adalah orang-orang zhalim, karena merampas haq khilafah Ali bin Abi Thalib ra setelah Rasulullah saw. Umat yang membai’at ketiga khalifah tersebut dinyatakan kafir (dikutip dari An Nubakhti Firaq As Syi’ah op cit hal 44)
3.    Bahwa Ali ra adalah pencipta semua makhluk dan pemberi rizqi (dikutip dari Ibnu badran, tahdzib at tarikh ad Dimasyqi juz VII hal 430)
4.    Bahwa Nabi Muhammad saw akan kembali lagi ke dunia  sebelum kiamat sebagaimana kembalinya Isa as (dikutip dari Ibnu Badran, op cit Juz VII hal 428)
5.    Bahwa Ruhul Qudus berinkarnasi ke dalam diri pada Imam Syi’ah (.. al Bad’u wa at Tarikh juz V hal 129 tahun 1916)
6.    Al-Maamiqaaniy berkata .“Abdullah bin Saba’ yang dikembalikan kepadanya kekufuran dan sikap berlebih-lebihan yang sangat terang”.Lalu ia berkata : Orang yang berlebih-lebihan lagi terlaknat. Amiirul-Mukminiin telah membakarnya dengan api. Ia mengatakan bahwa ‘Aliy adalah Tuhan, dan ia adalah nabi”.[Tanqiihul-Maqaal fii ‘Ilmir-Rijaal, 2/183-184].
7.    As-Sayyid Ni’matullah Al-Jazaairiy berkata : ’Abdullah bin Saba’ berkata kepada ‘Aliy ‘alaihis-salaam : ‘Engkau adalah tuhan yang sebenar-benarnya’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain. Dan dikatakan : ‘Sesungguhnya ia dulu seorang Yahudi lalu masuk islam. Saat masih beragama Yahudi ia pernah berkata terhadap Yusyaa’ bin Nuun dan Muusaa semisal apa yang dikatakannya kepada ‘Aliy”. [Anwaarun-Nu’maaniyyah, 2/234].
8.    Muhammad Husain Az-Zain berkata: “Maka, sesungguhnya sosok laki-laki ini – yaitu Ibnu Saba’ – diketahui benar adanya dan menampakkan sikap berlebih-lebihan (ghulluw). Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka (orang-orang Syi’ah) ragu-ragu akan keberadaannya sehingga menjadikannya sebagai sosok khayalan…..Adapun kami, sesuai penelitian termuktakhir, tidak ragu akan keberadaannya dan sikap berlebih-lebihannya” [Asy-Syii’ah wat-Taariikh, hal. 213
9.    Dapat ditambahkan pula bahwa Abu Muhammad al Hasan Ibnu Musa an Nubakhti, seorang syi’ah didalam bukunya ”Firaq as syi’ah hal 41-42 mengatakan, bahwa Ali ra pernah hendak membunuh Abdullah bin Saba’ dan kebohongan yang disebarkan, yakni mengaggap Ali ra sebagai Tuhan dan mengaku dirinya sebagai nabi, akan tetapi tidak jadi karena ada yang tidak setuju, Lalu, sebagai gantinya, Abdullah bin saba’ dibuang ke Mada’in.

Buku Encyclopedia Shi’a halaman 554 memberikan penjelasan terhadap kisah Abdullah bin Saba’ yang dikutip oleh penulis syi’ah diatas,  ”... an Nubakhti, Ibnu Badran,   Al-Maamiqaaniy, As-Sayyid Ni’matullah Al-Jazaairiy,  Muhammad Husain Az-Zain dan sejahrawan syi’ah lainya yang menuliskan kisah Abdullah bin Saba’ tidak pernah menyebutkan dari mana ia mendapatkan riwayat serta sumbernya,  bahkan sering ditemui,  mereka menuliskan cerita Abdullah bin Saba’ hanya dengan sumber yang ditulis ” beberapa oarang berkata demikian dan demikian...” tanpa memberi isnad atau nama orang-orang yang menjadi sumber cerita tersebut, sehingga kebenaran cerita Abdullah bin Saba’ diragukan kebenarnya”.
Selain dalam  buku diatas ada beberapa sumber lain yang berasal dari syi’ah yang menyebutkan tentang Abdullah bin Saba’ , berikut  ami kutipkan dari blog milik al jauzaa :

1.    Dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam, ia berkata :إن عبد الله بن سبأ كان يدعي النبوة، ويزعم أن أمير المؤمنين هو الله – تعالى عن ذلك – فبلغ ذلك أمير المؤمنين عليه السلام فدعاه وسأله فأقر بذلك وقال : نعم أنت هو، وقد كان قد ألقي في ورعي أنك أنت الله وأني نبي، فقال أمير المؤمنين عليه السلام : ويلك قد سخر منك الشيطان، فارجع عن هذا ثكلتك أمك وتب، فأبى، فحبسه، واستتابه ثلاثة أيام، فلم يتب، فأحرقه بالنار، وقال : أن الشيطان استهواه، فكان يأتيه ويلقي في روعه ذلك.“Sesungguhnya ‘Abdullah bin Saba’ mendakwakan nubuwwah dan mengatakan Amiirul-Mukminiin (‘Aliy bin Abi Thaalib) adalah Allah – Maha Tinggi Allah atas tuduhan itu – . Khabar itu pun sampai kepada Amiirul-Mukminiin. Beliau memanggilnya dan mengkonfirmasikannya. Ia (‘Abdulah bin Saba’) berkata : ‘Benar, engkau adalah Allah. Telah dibisikkan ke dalam hatiku bahwa engkau adalah Allah dan aku adalah nabi’. Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam berkata : ‘Celaka kamu, syaithan telah menundukkanmu’. Rujuklah dari perkataanmu, ibumu pasti binasa, dan bertaubatlah !’. Ia menolak (untuk bertaubat), lalu ia dipenjara dan diminta untuk bertaubat dalam waktu tiga hari. Namun ia tidak mau bertaubat juga, sehingga (dijatuhi hukuman) dibakar dengan api. Amiirul-Mukminiin berkata : ‘Syaithan telah menguasai dirinya. Ia datang kepadanya (Ibnu Saba’) dan membisikkan ke dalam hatinya hal tersebut”.

2.    Dari Abu ‘Abdillah, bahwasannya ia berkata :لعن الله عبد الله بن سبأ، إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام، وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدًا لله طائعًا، الويل لمن كذب علينا، وإن قومًا يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم، نبرأ إلى الله منهم.“Allah melaknat ‘Abdullah bin Saba’. Sesungguhnya ia mendakwakan Rububiyyah kepada Amiirul-Mukminiin ‘alaihis-salaam, sedangkan Amiirul-Mukminiin – demi Allah – hanyalah seorang hamba yang mentaati Allah. Neraka Wail adalah balasan bagi siapa saja yang berdusta atas nama kami. Sesungguhnya telah ada satu kaum berkata-kata tentang kami sesuatu yang kami tidak mengatakannya. Kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu, kami berlepas diri kepada Allah atas apa yang mereka katakan itu”. [Ma’rifatu Akhbaarir-Rijaal oleh Al-Kasysyiy, hal. 70-71]. Kitab Rijaalul-Kasysyiy ini termasuk kitab Syi’ah yang pertama dan diakui dalam ilmu rijaal. Dalam blog abu al jauza tidak disebutkan sanad periwayat kisah Abdullah bin saba’ dari kitab al kasysyiy, agar lebih komplit maka kami sebutkan sumber sanad kisah tersebut. Kisah Abdullah bin Saba’ dalam riwayat al kasysyiy memiliki sanad sebagai berikut :

a.    Dari Muhammad bin Quluwaihi al Qummy, dari Sa’ad bin Abdullah bin Abi Khalaf, dari Abdurrahman bin Sinan, dari Abu Ja’far as (Rijal al kasy hal 107),
b.    Dari Muhammad bin Quluwaihi, dari sa’ad bin Abdullah, dari Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin Isa dari Abu ‘Umair dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah as. (ibid),
c.    Dari Muhammad bin Quluwaihi, dari Sa’ad bin Abdullah dari Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin Isa, dari Ali bin Mahzibad, dari Fudhallah bin Ayyub al Azdi, dari Aban bin Utsman dari Abu Abdillah as (ibid)
d.    Dari ya’qub bin yazid, dari Ibnu Abi ‘Umair dan Ahmad bin Muhammad bin Isa dari ayahnya dan Husein bin Said dari Ibnu Abi ‘Umair, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Hamzah ats Tsumali, dari Ali bin Husein as (Ibid hal 108)
e.    Dari Sa’ad bin Abdullah dari Muhammad bin Khalid ath Thayalisi dari Abdurahman  bin Abu Najras, dari Ibnu Sinan dari abu Abdillah as. (ibid hal 108)

3.    Al-Maamiqaaniy berkata :عبد الله بن سبأ الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو.“Abdullah bin Saba’ yang dikembalikan kepadanya kekufuran dan sikap berlebih-lebihan yang sangat terang”.Lalu ia berkata : غالٍ ملعون، حرقه أمير المؤمنين عليه السلام بالنار، وكان يزعم أن علياً إله، وأنه نبي.“Orang yang berlebih-lebihan lagi terlaknat. Amiirul-Mukminiin telah membakarnya dengan api. Ia mengatakan bahwa ‘Aliy adalah Tuhan, dan ia adalah nabi”.[Tanqiihul-Maqaal fii ‘Ilmir-Rijaal, 2/183-184]. Al-Maamiqaaniy merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah dalam ilmu rijaal.  Al-Maamiqaaniy tidak menyebutkan sumber periwayat tentang kisah Abdullah bin Saba’  baik jalur periwayatanya maupun jalur pengutipan kisahnya, sebagimana telah dibahas diatas.

4.    An-Naubakhtiy berkata : السبئية قالوا بإمامة علي، وأنها فرض من الله عز وجل وهم أصحاب عبد الله بن سبأ، وكان ممن أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة، وقال : (إن عليا عليه السلام أمره بذلك) فأخذه علي فسأله عن قوله هذا، فأقر به، فأمر بقتله، فصاح الناس إليه : يا أمير المؤمنين ! أتقتل رجلاً يدعوا إلى حبكم أهل البيت، وإلى ولايتك والبراءة من أعدائك ؟ فصيره إلى المدائن. وحكى جماعة من أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديًا فأسلم ووالى عليًا وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون بعد موسى عليه السلام بهذه المقالة، فقال في إسلامه في علي بن أبي طالب بمثل ذلك، وهو أول من شهر القول بفرض إمامة علي عليه السلام وأظهر البراءة من أعدائه….فمن هڽا قال من خالف الشيعة : إن أصل الرفض مأخوذ من اليهودية. “Kelompok Saba’iyyah mengatakan keimamahan ‘Aliy dan hal itu merupakan satu kewajiban dari Allah ‘azza wa jalla. Mereka adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’. Mereka adalah orang-orang yang menampakkan pencelaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan para shahabat. Ia (Ibnu Saba’) berkata : ‘Sesungguhnya ‘Aliy memerintahkannya’. Maka ‘Aliy menangkapnya dan mengkonfirmasi atas perkataannya tersebut, dan ia pun mengakuinya. Lalu ‘Aliy memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak : ‘Wahai Amiirul-Mukminiin, apakah engkau akan membunuh orang yang menyerukan mencintai Ahlul-Bait, kepemimpinanmu, dan berlepas diri dari musuh-musuhmu ?’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain.Diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu (ulama) bahwasannya ‘Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam, lalu memberikan loyalitas kepada ‘Aliy. Saat masih dalam agama Yahudi, ia pernah berkata tentang Yusya’ bin Nuun sepeninggal Musa ‘alaihis-salaam perkataan seperti ini. Lantas setelah masuk Islam, ia berkata tentang ‘Aliy seperti apa yang dikatakannya kepada Yusya’ bin Nuun. Ia adalah orang yang pertama kali mengumumkan pendapat wajibnya keimamahan ‘Aliy ‘alaihis-salaam dan menampakkan berlepas diri terhadap musuh-musuhnya…. Dari sinilah asal perkataan orang-orang yang menyelisihi Syi’ah (baca : Ahlus-Sunnah) : ‘Sesungguhnya dasar Rafidlah diambil dari paham Yahudi”. [Firaqusy-Syii’ah, hal. 32-44]. An-Naubakhtiy ini menurut penilaian orang Syi’ah adalah seorang yang tsiqah lagi diakui [lihat Jaami’ur-Ruwaat oleh Al-Ardabiiliy 1/228 dan Al-Kunaa wal-Alqaab oleh ‘Abbaas Al-Qummiy 1/148].   Demikian pula an Naubakhtiy tidak menyebutkan sumber dan jalur periwayatan kisah Abdullah bin Saba, sebagaimana sudah dibaha pada tulisan diatas

5.    Sa’d bin ‘Abdillah Al-Asy’ariy Al-Qummiy berkata saat memaparkan kelompok Saba’iyyah : السبئية أصحاب عبد الله بن سبأ، وهو عبد الله بن وهب الراسبي الهمداني، وساعده على ذلك عبد الله بن خرسي، وابن أسود، وهما من أجل أصحابه، وكان أول من أظهر الطعن على أبي بكر، وعمر، وعثمان، والصحابة وتبرأ منهم.“Kelompok Saba’iyyah adalah pengikut ‘Abdullah bin Saba’. Ia adalah ‘Abdullah bin Wahb Ar-Raasibiy Al-Hamdaaniy. Para pembantunya adalah ‘Abdullah bin Khurasiy dan Ibnu Aswad. Mereka berdua termasuk orang terkemuka dari kalangan pengikutnya. Ibnu Saba’ adalah orang yang pertama kali menampakkan celaan terhadap Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan para shahabat, serta berlepas diri dari mereka semuanya”. [Al-Maqaalaatu wal-Firaq, hal. 20].Al-Qummiy ini menurut penilaian orang Syi’ah termasuk orang yang tsiqah yang luas pengetahuannya tentang khabar/riwayat [lihat Jaami’ur-Ruwaat, 1/352].

6.    As-Sayyid Ni’matullah Al-Jazaairiy berkata : قال عبد الله بن سبأ لعلي عليه السلام : أنت الإله حقًَا، فنفاه علي عليه السلام إلى المدائن، وقيل : إنه كان يهوديًا فأسلم، وكان في اليهودية يقول في يوشع بن نون وفي موسى مثل ما قال في علي. “’Abdullah bin Saba’ berkata kepada ‘Aliy ‘alaihis-salaam : ‘Engkau adalah tuhan yang sebenar-benarnya’. Maka ‘Aliy mengasingkannya ke daerah Madaain. Dan dikatakan : ‘Sesungguhnya ia dulu seorang Yahudi lalu masuk islam. Saat masih beragama Yahudi ia pernah berkata terhadap Yusyaa’ bin Nuun dan Muusaa semisal apa yang dikatakannya kepada ‘Aliy”. [Anwaarun-Nu’maaniyyah, 2/234]. Ni’matullah Al-Jazaairiy dikenal sebagai seorang muhaddits dan ulama besar yang diakui keilmuannya oleh kalangan Syi’ah [lihat Al-Kunaa wal-Alqaab, 3/298 dan Safiinatul-Bihaar 2/601].

7.    Sebetulnya masih ada kisah Abdullah bin Saba yang terdapat didalam karya  Syekh al Thusi, Ahmad Ibnu Thawus,  Allamah al Hilli, Syaikh Shaduq  yang jalur pengutipanya melalui al Kusysyi(Dalam blog Abu al Jauza tidak disebutkan), kami hanya akan menyebut jalur syekh shaduq yang disebut dalam majalah al Muslimun, dengan jalur dari Muhammad bin al hasan, dari Muhammad al Hasan ash shafadi dari Muhammad bin isa dari qasim bin Yahya dari kakeknya al hasan bin rasyid dari Abu Basyir, dari Abu Abdullah as (As Shaduq, Illal Asy Syara’i Cet ke II hal 344) dan Dari Sa’id bin Abdullah dari Muhammad  Isa bin ‘Ubaid al yaqthumi dari al Qasim bin Yahya dari kakeknya al hasan bin rasyid dari abu basyir dan Muhammad bi Muslim dari Abu Abdillah as (ash Shaduq al Khisal Cet th 1389 hal 628)

Riwayat-riwayat diatas telah pula dibahas dalam buku  Encyclopedia of Shia pada halaman 554-560, sebagian kutipanya adalah sebagai berikut :

1.    Diantara perawi syi’ah yang menyebutkan   nama ‘Abdullah bin Saba’ tanpa memberi keterangan mengenai sumber asal muasalnya adalah Sa’d Ib ‘Abd Allah al Asy’ari al Qummi (301), dalam  bukunya al Maqalat wal Firaq, menyebut sebuah riwayat dimana terdapat nama ‘Abdullah bin Saba’. Tetapi ia tidak menyebut sanadnya dan juga tidak menyebut dari siapa (atau dari kitab mana) ia mendapat cerita tersebut dan apa sumbernya. Selain itu al Asy’ari al Qummi telah meriwayatkan banyak hadis dari sumber ahlu sunnah. Al Najjashi (450)  dalam kitabnya  “ al Rijal”  menuliskan “ Bahwa al-Asy’ari al Qummi mengembara ke banyak tempat terkenal  dengan hubunganya dengan sejahrawan sunni  dan banyak mendapat cerita dari mereka, ia menulis banyak riwayat lemah dari apa yang ia dengar, salah satunya adalah cerita ‘Abdullah Ibn Saba’, yang ditulisnya dengan tanpa jalur periwayatan “
2.     Nama kedua yang menyebutkan kisah Abdullah bin Saba’ dalam kitab Syi’ah adalah Hasan Ibn Musa al Nawbakhti (310), ia seorang sejahrawan syi’ah yang menuliskan sebuah riwayat dalam bukunya “al Firaq” tentang Abdullah bin Saba’. Tetapi ia tidak pernah menyebut dari mana ia mendapat riwayat tersebut serta sumbernya.
3.    Nama ketiga adalah al Khusyi (atau al Kusysyi, ia disingkat dengan nama Kas) 369 menulis dalam kitabnya berjudul “Rijall” (Rijjal al kasy) ditahun 340H mengenai Abdullah bin Saba’.  Di dalam bukun tersebut, ia menyebut beberapa hadis yang didalamnya muncul nama “Abdullah bin Saba’, dari Imam ahlul Ba’it. Tetapi telah terbukti bagi ulama syi’ah bahwa kitab Rijjal al kasysyi memiliki banyak kesalahan, terutama dalam nama dan juga beberapa kesalahan pada kutipan-kutipan dalam kitab ar Rijjal (diantaranya kisah Abdullah bin saba’). Oleh karenanya, bukunya tidak dianggap sebagai sumber syi’ah yang dapat dipercaya. Apalagi bahwa riwayat-riwayat al Kussyi tentang Abdullah bin Saba’ tidak ditemukan di empat hadis utama syi’ah. Diantara ulama-ulama syi’ah  terdapat beberapa ulama seperti Syaikh al Thusi. Ahmad Ibn Thawus, Allamah al Hilli syaikh shaduq dan lain sebagainya yang mengutip riwayat Abdullah bin Saba’ darinya”.  Untuk melihat penilaian kritis terhadap kesalahan hadis al Kasysyi  kami persilahkan membaca telaah Rijal karya al Kusysyi dalam kitab al Rijal karya al Tustari dan Al askari.  [15]

Alternatif  lain pengujian Validitas Kisah Abdullah bin Saba’

Selain pengujian melalui jalur periwayatan dan sumber periwayatan yang telah kami sebutkan diatas, seorang sarjana Muslim bernama S.H.M Jafri  menggunakan metode lain untuk meneliti asal-usul Syi’ah. Beliau menuliskan hasil penelitianya dalam buku berjudul Origin and Early Development Of Shi’a Islam.  Pengujian yang ia gunakan adalah dengan kajian historiografi dengan melakukan studi komparatif sejarah, yakni membandingkan seluruh penulis sejarah Islam dari generasi paling awal. Ia menuliskan “ bahwa keberadaan Abdullah bin Saba’ tidak ditemukan dalam naskah-naskah sejarah tertua seperti Muhammad bin Ibn Ishaq bin Yasar (l. 85/704, w. 151/681) Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad ( 168) Ahmad bin Yahya al Baladzuri (w 279/892) Ibn Wadhih al Ya’qubi (w. 284/897) Abu Bakar ahmad bin Abdullah al Aziz al Jauhari (w 298)  dan Mas’udi (w 344), Sejarah seputar  masa krisis kekhalifahan Utsman bin Affan hingga terbunuhnya beliau yang ditulis  para sejahrawan tertua tersebut tidak disebut-sebut keterlibatan Abdullah bin Saba bahkan nama Abdullah bin Saba’ tidak ditemukan dalam naskah Ansab al Asyraf karya Baladzuri, padahal  kitab tersebut yang paling detail bercerita tentang krisis pada masa kekhalifahan Utsman, demikian pula tidak ditemukan dalam naskah sejahrawan tertua lainya”  Memang dalam kitab baladzuri terdapat nam Ibnu Saba’, tetapi dia merujuk pada nama  Abdullah bin Wahab al Hamdani atau kemudian dikenal dengan sebutan Abd Allah al Wahab al Saba’i pemimpin kelompok Khawarij. bukan merujuk pada Ibn Sawda  atau Abdullah bin Saba’
Berpijak dari hasil penelitian  S.H.M Jafri tersebut dapatlah kita sebutkan bahwa,  eksistensi tentang Abdullah bin Saba’ ini baru muncul pada naskah-naskah sejarah setelahnya, dengan kata lain muncul pada masa Ath Thabari yang merujuk pada si pencipta tokohnya yang bernama Syaif Ibnu Umar at Tamimi yang kemudian cerita tersebut beredar secara luas di kutip oleh kalangan sejarahwan ahlu sunnah maupun syi’ah.
Beberapa sejahrawan modern banyak pula yang telah melakukan penelitian tentang syi’ah (beserta asal-usulnya) dan kesimpulan mereka adalah meragukan keberadaan figur fiktif bernama Abdullah bin saba tersebut diantaranya adalah :

1.    Penelitian yang dilakukan oleh tim yang dibentuk lembaga ahlu sunnah dari Damaskus yang bernama al majma’ al ‘Ilmi al ‘Arabi, telah membentuk tim dibawah pimpinan Profesor Muhammad Kurdi Ali, untuk melakukan penelitian tentang syi’ah. Hasilnya penelitian telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Khtath al Syam. Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang asal usul syi’ah  yang dilahirkan dari lisan Rasulullah SAW , dan  bukan dari Abdullah bin Saba’, dalam buku itu disebutkan pula nama-nama sahabat syi’ah awal.
2.    Ulama dari Indonesia yang meneliti syi’ah diantaranya adalah Prof Dr H Abu Bakar Atjeh – beliau adalah seorang ahlu sunnah- yang karyanya diterbitkan dengan judul Syi’ah Rasionalisme dalam Islam yang dalam bukunya beliau mengutip pendapat HAMKA bahwa madzhab syafi’i yang di anut mayoritas muslim indonesia lebih dekat dengan madzhab syi’ah. Dalam bukunya tidak disebutkan peran Abdullah bin Saba’ dalam pendirian islam, malah beliau menunjukkan bahwa syi’ah dilahirkan oleh Rasulullah saw.
3.    Ulama dari indonesia lainya adalah H Abdullah bin Nuh beliau -adalah seorang ahlu sunnah-, yang  banyak melakukan penelitian tentag syi’ah, dan beliau menyebutkan bahwa penyebar Islam di Indonesia yang pertama adalah orang-orang syi’ah
4.    Dr Thoha Husein, ia menyatakan  tentang keraguanya akan keberadaan Abdullah bin Saba’ dan menganggapnya tokoh  fiktif. (sebagaimana dituliskan dalam Al Fitnatul Kubra jilid II karya Thoha Husein) beliau juga meneliti kitab-kitab sejarah awal dan tidak ditemukan nama Abdullah bin Saba’tersebut. Sikap para nawashib kepada beliau sungguh keterlaluan, hasil dari penelitian beliau dikecam oleh para pembenci ahlul ba’it dan nama beliau dicemarkan, termasuk para nawashib di Indonesia.
5.    Asyaikh al azar Syaikh Mahmud Syaltut, beliau bahkan mengeluarkan fatwa bolehnya berpegang dengan madzhab syi’ah. Lagi-lagi para nawashib  yang hendak memadamkan api Islam menuduh beliau sebagai telah keluar dari islam.

Kecurangan-kecurangan dalam pengutipan

Ditengarai  para nawashib  telah melakukan kecurangan-kecurangan terhadap karya-karya sejahrawan awal. Modusnya adalah dengan melakukan perubahan ataupun pemalsuan terhadap redaksional dengan dibelokan dari makna aslinya. Tindakan itu dimaksudkan untuk menunjukan kepada khalayak awam bahwa dalam kitab-kitab sejarah paling awal yang ditulis sejahrawan muslim terdapat figur Abdullah bin Saba’ dan itu membuktikan kepada khalayak ramai, bahwa Abdullah binn Saba’ bukanlah tokoh fiktif. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :

“Ahmad bin Ya’qub,…, Dia mengutip perkataan Sayyidina Utsman ketika beliau marah kepada sahabat Ammar bin Yasir karena telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad “celakalah Ibnu as-Sauda’ (Abdullah bin Saba’) itu. Sungguh aku benar-benar mengetahuinya.” [16]

tindak pemalsuan diatas adalah dengan pemberian makna lain dari redaksi yang sebenarnya, pada tulisan diatas (yang dipalsukan) kata dalam kurung yang tertulis (Abdullah bin Saba’) tidak terdapat dalam kitab Tarikh Ya’qubi, kata tersebut adalah tambahan dari si pengutip. Pihak pengutip sengaja menghilangkan informasi sebelum dan sesudahnya yang menunjukkan bahwa Ibnu Sa’uda yang dimaksud adalah Ammar bin Yasser, mari kami kutipkan secara utuh :

“  Ketika Ibnu Mas’ud  datang ke Madinah dari kuffah, dan menyerahkan kunci ba’it al mal dengan sikap sedemikian rupa, lalu Utsman bin Affan mengeluarkan perintah agar Ibn Mas’ud dihajar dan dikeluarkan dari amsjid. Karena tidak senang dengan perbuatan Utsman, maka Ali membawa Ibn Mas’ud ke rumah. Ibnu Mas’ud meninggal dua tahun sebelum Utsman. Dalam Wasiatnya Ibnu Mas’ud minta supaya Ammar mendo’akan dan menshalatkan jenazahnya, dan meminta supaya Usman tidak mensholatkan jenazahnya. Miqdad juga bersikap demikian…. Utsman bin Affan marah kepada Ammar bin Yasser yang telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad bin Amr, Utsman bin Affan berkata kepada Ammar “ Celakalah engkau Ibnu as sauda sungguh aku benar-benar mengetahuinya…Ammar oleh kalangan Qurasy digelari dengan Ibnu Sawda’  yang artinya sebagai putra wanita hitam dan  Al Abd yang artinya si budak” [17]

Dengan demikian jelas bahwa si pengutip bermaksud membelokkan arti dari Ibnu Sawda diatas, sebagaimana telah kami sampaikan diatas melalui penelitian bahwa Abdullah bin Saba’ tidak diketemukan dalam kitab-kitab sejahrawan Islam Paling awal.

Sebetulnya kalau kita jeli melihat kalimat yang dipalsukan tersebut, bahwa sebetulnya yang disebut Ibnu Sa’uda adalah Ammar bin Yasir, perhatikan  :  diatas diceritakan Khalifah Utsman bin Affan marah kepada Ammar bin Yassir  karena telah merahasiakan wafatnya Abdullah bin Mas’ud dan Miqdad padahal Khalifah Utsman  tahu, kemarahan khalifah diujudkan dengan mengatakan “celakalah Ibnu as sauda” tentu saja kemarahan itu ditujukan kepada Ammar bukan ? tidak kepada Abdullah bin Saba’, karena disitu Khalifah sedang berbicara dengan Ammar. Biasanya orang-orang nawashib sangat lihai dalam memotong dan memalsukan informasi, tapi kali ini mungkin mereka kurang begitu cekatan atau terlalu bersemangat untuk memberikan tuduhan bahwa Syi’ah adalah produk Abdullah bin Saba’, sehingga mereka terperangkap dalam tindak pemalsuanya sendiri.

Bentuk pembiasan informasi lain adalah,  terdapatnya “nama Ibnu Saba’ yang tertulis dalam kitab Ansab al Asyraf karya baladzuri, dalam kitabnya tertulis “… Dan Ibnu Saba’ memiliki satu naskah dari surat tersebut lalu ia mengubah-ubahnya”  jika informasi ini dipotong sampai disini saja maka dampaknya adalah bahwa bukti Abdullah bin Saba’ tertulis di kitab sejarah  islam awal adalah benar, tetapi kalimat tersebut masih memiliki keterangan,  bahwa yang dimaksud al Baladzuri dengan  Ibnu saba’  disitu adalah ‘Abd Allah Ibn Wahab al Saba’i atau dikenal juga dengan Abdullah bin Wahab al Hamdani,  dia adalah pemimpin utama Khawarij dari suku Sabaiyah atau Qathan.  Penyematan nama saba’iyah ini disebabkan oleh gesekan antara suku Adnan dan Qathan, sehingga orang-orang Adnani memanggil orang-orang dari suku Qathan dengan sebutan sabaiyah [18]

Dengan demikian pemerkosaan pada kedua kitab awal yang  dipaksa untuk membuktikan adanya tokoh Abdullah bin Saba’ sebetulnya adalah tindakan kejahata. Kedua kitab tersebut memang berbicara secara detail berkenaan krisi dimasa khalifah Utsman sehingga beliau wafat, namun tidak diketemukan nama Abdullah bin Saba’ sebagimana yang dituduhkan sebagai pendiri Madzab syi’ah.

Rasulullah SAW adalah pendiri  madzhab syi’ah

Sebagai alat uji terakhir untuk meneliti kebenaran apakah syi’ah adalah produk Abdullah bin Saba’ adalah menggunakan alat uji sebagimana yang diperintahkan oleh Imam Ja’far ash Shadiq, agar menguji hadis (riwayat) dengan Al Qur’an dan jika hadis (riwayat) tersebut bertentangan dengan Al Qur’an maka buanglah ke tembok (tidak dipakai).  Kami akan menyajika sabda Rasulullah saw, yang mendeklarasikan syi’ah dan siapa syi’ah itu. Rasulullah menafsirkan dari ayat Al Qur’an dan menjelaskan makna ayat tersebut. Dengan demikian  Hadist yang kami sebutkan dibawah ini langsung bersumber dari Al Qur’an dan Sabda Rasulullah  saw sendir, kami tidak akan memberikan analisa apapun, karena Rasulullah adalah yang memahami Al Qur’an. Dan kami tidak mengambil sumber dari syi’ah yang sangat banyak itu, kami cukupkan saja mengambil dari sumber ahlu sunnah sendiri.
Syi’ah didirikan oleh Rasulullah SAW sendiri – hal ini bertolak belakang dari pandangan yang menyebutkan syi’ah merupakan paham hasil kreasi dari Abdullah bin Saba’  – bahkan Rasulullah saw tatkala menafsirkan ayat Al Qur’an beliau menjelaskan makna syi’ah tersebut ditujukan kepada pengikut imam Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Ba’it, hal ini dapat di baca dalam riwayat ulama ahlu sunnah dibawah ini :

1.    Al Hafizh Abu Na’im, [19] meriwayatkan dalam kitabnya HIlayah al Awliya dengan sanad dari Ibnu Abbas, ketika turun ayat yang mulia :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS.AlBayyinah: 7-8), kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu. Engkau dan syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridho’i” .

2.    Mawfiq bin Ahmad al Khawarizmi, meriwayatkan dari Abu Mua’ayyid, dalam kitab al Manaqib hadis ke dua dfalam pasal 17 dalam penjelasan ayat yang turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib,  dengan redaksi tanpa mencantumkan ayatnya, bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu. Engkau dan syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridho’i” .

3.    Sabath bin al Jawzi dalam kitabnya  Tadzkirah Khawwash al Ummah  hlm 56 meriwayatkan dengan sanad dari Abu Sa’id al Khudri,  Nabi Saw memandang kepada Ali bin Abi Thalib, lalu  Rasulullah saw bersabda, “ orang ini dan para pengikutnya (syi’ah) adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat”

4.    Al Hakim ‘Ubaidullah al Haskani, seorang mufasir ahlu sunnah yang terkemuka menuliskan dalam kitabnya  Syawahid al Tanzil, dari al Hakim Abu ‘Abdullah al Hafizh dengan sanad marfu’ kepada Yazid bin Syahrahil al Anshari, ia berkata :”  Saya mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah saw, sambil menyandarkan kepalanya di dadaku beliau bersabda, “Wahai Ali, tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah SWT, “:” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8)   mereka adalah engkau dan syi’ahmu, dan tempat pertemuanku  dan kamu yang telah dijanjikan adalah al haudh, ketika umat-umat lain ketakutan saat hendak di hisab, kalian dipanggil karena tanda putih di dahi (ghurran muhajjalin).

5.    Allamah Muhammad bin Yusuf al Qurasyi al Kanji al Syafi’I, meriwayatkan dalam kitabnya Kifayah al Thalib Bab 62 dari Yazid bin Syarahil, ia berkata :”  Saya mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah saw, sambil menyandarkan kepalanya di dadaku beliau bersabda, “Wahai Ali, tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah SWT, “:” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8)   mereka adalah engkau dan syi’ahmu, dan tempat pertemuanku  dan kamu yang telah dijanjikan adalah al haudh, ketika umat-umat lain ketakutan saat hendak di hisab, kalian dipanggil karena tanda putih di dahi (ghurran muhajjalin).

6.    Mawfiq bin Ahmad al Khawarizmi dalam kitabnya  Manaqib Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda, , “Wahai Ali, tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah SWT, “:” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8)   mereka adalah engkau dan syi’ahmu, dan tempat pertemuanku  dan kamu yang telah dijanjikan adalah al haudh, ketika umat-umat lain ketakutan saat hendak di hisab, kalian dipanggil karena tanda putih di dahi (ghurran muhajjalin).

7.    Abu al Mu’ayyid al Mawfiq bin Ahmad al Khawarizmi meriwayatkan dalam Manaqib Ali bin Abi Thalib Pasal 9 hadis ke 10 dari  Jabir bin “Abdullah al Anshari, ia berkata, Kami berada bersama Rasulullah SAW, kemudian dating Ali bin Abi Thalib, kemudian beliau bersabda, “ Telah dating saudaraku kepada kalian”, kemudian beliau menoleh ke Ka’bah dan memukulkan  tanganya, lalu beliau bersabda: ” Demi yang diriku dalam kekuasan-Nya, orang ini dan syi’ahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat. Kemudian, ia  adalah orang pertama yang beriman di antara kalian, yang paling setia menepati janji Allah, yang paling keras menegakkan perintah Allah, yang paling adil dalam memimpin, yang paling adil dalam membagi, dan yang paling agung keutamaanya di disisi Allah” Perawi kemudian menambahkan, kemudian turun ayat Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk… (hingga akhir surrah), selanjutnya perawi berkata, “ Apabila Ali bin Abi Thalib dating, para sahabat Muhammad berkata, “Telah dating khayrul barriyyah (sebaik-baik makhluk)

8.    Allamah  al-Kanji al Syafi’I meriwayatkan dalam kitabnya Kifayah al Thalib bab 62 dengan sanad dari Jabir bin ‘Abdullah al Anshari : , Kami berada bersama Rasulullah SAW, kemudian dating Ali bin Abi Thalib, kemudian beliau bersabda, “ Telah dating saudaraku kepada kalian”, kemudian beliau menoleh ke Ka’bah dan memukulkan  tanganya, lalu beliau bersabda: ” Demi yang diriku dalam kekuasan-Nya, orang ini dan syi’ahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat. Kemudian, ia  adalah orang pertama yang beriman di antara kalian, yang paling setia menepati janji Allah, yang paling keras menegakkan perintah Allah, yang paling adil dalam memimpin, yang paling adil dalam membagi, dan yang paling agung keutamaanya di disisi Allah”.

9.     Jalaludin al Suyuthi  dalam kitabnya  al Durr al Mantsur,  ia meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Asakir al Dimasyqi yang meriwayatkanya  dari Jabir bin ‘Abdullah al Anshari, bahwa ia berkata : Kami berada bersama  Rasulullah SAW, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib dating, maka Nabi SAW bersabda, “Demi diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan syi’ahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat.” Kemudian turun ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8)

10.    Jalaludin al Suyuthi  dalam kitabnya  al Durr al Mantsur  juga meriwayatkan dari Ibn ‘Adi dari Ibn ‘Abbas, bahwa ia meriwayatkan ketika turun ayat “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8), Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Engkau dan syi’ahmu dating pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan diridhoi”.

11.    Ibnu al-Shabagh al-Maliki dalam kitabnya al Fushul al Muhimmah hal 122, meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Abbas, ia berkata : Ketika turun ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8) Nabi SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, ”Ítu adalah engkau dan syi’ahmu, engkau dan mereka dating pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridhoi. Sedangkan Musuh-musuhmu dating dalam keadaan murka dan hangus”

12.     Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah bab XI, meriwayatkanya dari al Hafizh Jamaluddin al Zarandi , Muhammad bin Yusuf al Zarandi al Madani, ia berkata,  Ketika turun ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8) Nabi SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, ”Ítu adalah engkau dan syi’ahmu, engkau dan mereka dating pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridhoi. Sedangkan Musuh-musuhmu dating dalam keadaan murka dan hangus” Maka Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Rasulullah SAW,  “Siapakah Musuhku ?  Beliau SAW menjawab, “Orang-orang yang berlepas diri darimu dan suka melaknatmu”.

13.    Allamah al Mashudi dalam  Jawahir al “Uqdayn juga meriwayatkan dari al Hafizh Jamaludin al Zarandi , Muhammad bin Yusuf al Zarandi al Madani, ia berkata,  Ketika turun ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” ?(QS.AlBayyinah: 7-8) Nabi SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, ”Ítu adalah engkau dan syi’ahmu, engkau dan mereka dating pada hari kiamat dalam keadaan ridho dan di ridhoi. Sedangkan Musuh-musuhmu dating dalam keadaan murka dan hangus” Maka Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Rasulullah SAW,  “Siapakah Musuhku ?  Beliau SAW menjawab, “Orang-orang yang berlepas diri darimu dan suka melaknatmu”.

14.    Mir Sayid Ali al Hamdani al Syafi’I, dalam kitabnya Mawaddah al Qurba, meriwayatkan dari Ummul mukminin  Ummu Salamah, bahwa ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Wahai Ali, engkau dan sahabat-sahabatmu  berada di surga. Engkau dan syiahmu berada di surga.

15.    Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah meriwayatkan dari Ummul mukminin  Ummu Salamah, bahwa ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Wahai Ali, engkau dan sahabat-sahabatmu  berada di surga. Engkau dan syiahmu berada di surga.

16.    Al Hafizh bin al Maghazali al Syafi’I, dalam kitabnya Manaqib ‘Ali bin Abi THalib, ia meriwayatkan hadis dengan sanad dari Jabir bin “Abdullah : Ketika Ali bin Abi Thalib dating dalam penaklukan Khaibar, Rasulullah SAW berkata kepadanya : “Wahai Ali… Cukuplah  bagimu dengan kedudukanmu disampingku  seperti kedudukan Harun disamping Musa, hanya saja tidak ada Nabi sesudahku.  Engkau yang membebaskan jaminanku, menutup auratkau dan berperang untuk membela sunnahku.  Kelak di akhirat,  engkau adalah makhluk  yang paling dekat denganku. Di Al haudh  engkau berada di belakangku. Syiahmu  berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya disekelilingku dengan wajah yang putih. Aku memberikan syafaat kepada mereka . Merekapun berada dis urga di dekatku. Orang yang memerangimu berarti memerangiku dan orang yang berdamai denganmu berarti berdamai denganku.

17.    Kitab Tarikh Baghdad, Juz 12 hlm 289.    Nabi saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib : “Engkau dan syi’ahmu berada di surga”

18.    Kitab Muruj al-Dzahab, juz 2 hlm. 51 Nabi saw bersabda : ” Pada hari kiamat manusia dipanggil dengan nama-nama mereka dan ibu  mereka kecuali orang ini (Ali bin Abi Thalib) dan syi’ahnya. Mereka dipanggil dengan nama mereka dan bapak mereka karena kesahihan kelahiran mereka”.

19.    Kitab Al Shawa’iq al- Muhriqah, hlm 66 ceta. al-Maimanah Mesir. Bahwa Nabi saw bersabda: “Wahai Ali, engkau dan syiahmu kembali kepadaku di al-Hawdh dengan rasa puas dan wajah yang putih. Sedangkan musuh-musuh mereka kembali ke al-hawdh dalam kehausan”.

20.    Allamah Shalih al Turmudzi meriwayatkanya dalam  al Manaqib al Murthadhawiyah  hl 101 cet Bombay, Bahwa Nabi saw bersabda: “Wahai Ali, engkau dan syiahmu kembali kepadaku di al-Hawdh dengan rasa puas dan wajah yang putih. Sedangkan musuh-musuh mereka kembali ke al-hawdh dalam kehausan”.

21.    Kitab Kifayah al-Thalib, halaman 135, Nabi saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “…dan syiahmu berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya  dan dengan wajah putih di sekelilingku. Aku memberi syafaat kepada mereka. Maka mereka  kelak disurga bertetangga denganku”.

22.    Kitab Manaqib Ibn Maghazali,  hlm 238 meriwayatkan dalam hadis panjang dan pada akhir hadis berbunyi :  Nabi saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “…dan syiahmu berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya  dan dengan wajah putih di sekelilingku. Aku memberi syafaat kepada mereka. Maka mereka  kelak disurga bertetangga denganku”.

23.    Kitab Kifayah al-Thalib, hal 98 dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik” Allamah al Kanji kemudian menuliskan, “ Demikianlah al Khatib meriwayatkanya  dalam kitab tarikh dan sanad-sanadnya.

24.    Al Hakim meriwayatkan dalam  al Mustadrak Juz 3 hal 160 : dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”

25.     Ibnu Asakir meriwayatkan dalam kitab Tarikh Juz 4 hal 318 : dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”

26.    Muhibbuddin  meriwayatkan dalam kitab  al Riyadh al Nadhrah  juz II hal 253. dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”

27.    Ibn Shabagh al Maliki dalam kitabnya al Fushul al Muhimmah, 11, dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”

28.    al Shafuri dalam kitabnya Nazhah al Majalis juz II hal 222, dengan sanad dari ‘Ashim bin Dhumurah dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : “Ada sebuah pohon yang aku adalah pangkalnya, Ali adalah cabangnya, al-Hasan dan al-Huasin adalah buahnya, dan syi’ah adalah daun-daunnya. Tidak keluar  sesuatu yang baik kecuali dari yang baik”

29.    Allamah al Qunduzi al Hanafi dalam kitabnya Yaniabi ‘ al Mawaddah hlm 257 cet Istanbul  meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :” Janganlah kalian merendahkan syiah  Ali bin Abi Thalib, karena masing-masing dari mereka diberi syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar “

30.     Allamah al Hindi dalam kitab  Intiha’ al Afham hlm 19,  meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda :” Janganlah kalian merendahkan syiah  Ali bin Abi Thalib, karena masing-masing dari mereka diberi syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar “

31.    Sabath bin al Jawzi  dalam kitabnya Tadzkirah al Khawwash, hlm 59 cet aljir meriwayatkan  dengan sanadnya dari Abu Sa’id al Khudri : Nabi SAW memandang Ali bin Abi Thalib  dan bersabda, “Orang ini dan syi’ahnya adalah orangorang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat”

32.    al Dailami, penulis kitan Firdaws al Akhbar.  Meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah DAW bersabda :” Syi’ah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan “

33.    Allamah al Mannawi, dalm kitabnya  Kunuz  al Haqa’iq  hlm 83, cet Bulaq :  Meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah DAW bersabda :” Syi’ah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan “

34.     Al Qunduzi  dalam Yanabi’ al Mawwaddah hlm 180 cet Istanbul, Meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah DAW bersabda :” Syi’ah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan “

35.    Allamah al Hindi  meriwayatkan dalam kitabnya Intiha al Afham hal 222 Cet Nul Kesywar, ia eriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah DAW bersabda :” Syi’ah Ali adalah orang-orang yang memperoleh kemenangan “

36.     Allamah  al kasyafi al Turmudzi dalam kitabnya al Manaqib al Murthadhawiyah hlm 113 cet Bombay, meriwayatkan dari Ibn Abbas : bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ali dan syi’ahnya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat “

37.    Al Qunduzi  dalam Yanabi’ al Mawwaddah hlm 257 meriwayatkan dari Ibn Abbas : bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ali dan syi’ahnya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat “

38.    Allamah al Hindi  meriwayatkan dalam kitabnya Intiha al Afham  hlm 19, meriwayatkan dari Ibn Abbas : bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ali dan syi’ahnya adalah orang-orang yang mendapat kemenangan pada hari kiamat “

39.    Jalaludin al Suyuthi  dalam kitabnya  al Durr al Mantsur  juz VI hlm 379 cet Mesir, Rasulullah SAW bersabda  kepada Ali bin Abi Thalib : “Engkau dan syi’ahmu kembali kepadaku di al Hawdh dalam keadaan puas”

40.    Al Qunduzi  dalam Yanabi’ al Mawwaddah hlm 182, Rasulullah SAW bersabda  kepada Ali bin Abi Thalib : “Engkau dan syi’ahmu kembali kepadaku di al Hawdh dalam keadaan puas”

41.    Ibnu ‘Asakir  dalam Kitab Tarikh, 4 hlm 318 meriwayatkan,   Nabi saw bersabda : “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, al-Hasan dan al-Husain keturunan kita menyusul dibelakang kita.  Istri-istri kita menyusul dibelakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita “.

42.    Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah  hlm 96 meriwayatkan, Nabi saw bersabda : “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, al-Hasan dan al-Husain keturunan kita menyusul dibelakang kita.  Istri-istri kita menyusul dibelakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita “.

43.    Sabath bin al Jawzi  dalam kitabnya Tadzkirah al Khawwash  hlm 31, Nabi saw bersabda : “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, al-Hasan dan al-Husain keturunan kita menyusul dibelakang kita.  Istri-istri kita menyusul dibelakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita “.

44.    Dalam kitab   Majma’ al Zawa’id juz IX hal 131 diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, al-Hasan dan al-Husain keturunan kita menyusul dibelakang kita.  Istri-istri kita menyusul dibelakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita “.

45.    Allamah al Mannawi, dalm kitabnya  Kunuz  al Haqa’iq   dalam catatan pinggir  al Jami’ al Shaghir  juz II hlm 16 diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : “Wahai Ali, empat orang pertama yang masuk surga adalah aku, engkau, al-Hasan dan al-Husain keturunan kita menyusul dibelakang kita.  Istri-istri kita menyusul dibelakang keturunan kita, dan syiah kita di kanan dan kiri kita “.

46.    Is’f al Raghibin ditulis dalam catatan pinggir kitab  Nur al Abshar  hlm 131 karya al Daruquthni meriwayatkan secara Imarfu’  bahwa beliau Rasulull SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Abul Hasan, engkau dan syi’ahmu berada di surga”

47.    Tarikh Baghdad  juz XII hlm 289, cet al Sa’adah, Mesir, meriwayatkan dengan sanadnya dari al Sya’bi dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : Engkau dan syi’ahmu berada di surga

48.    Akhthab Khawarizmi meriwayatkan dalam kitabnya al Manaqib  : meriwayatkan dengan sanadnya dari al Sya’bi dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : Engkau dan syi’ahmu berada di surga

49.    Dalam kitab Muntakhab Kanz al ummal yang dicetak dalam catatan pinggir al Musnad  juz V hlm 439 cet al Mathba’ah al Maimanah Mesir meriwayatkan dengan sanadnya dari al Sya’bi dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : Engkau dan syi’ahmu berada di surga”

50.     Allamah al Barzanji menuliskan dalam kitabnya  al Isya’ah fi isyrath al sa’ah hlm 41 meriwayatkan dengan sanadnya dari al Sya’bi dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah SAW bersabda : Engkau dan syi’ahmu berada di surga

51.    al Haitsami dalam Kitab Majma al Zawa’id  juz 9 hlm 173, meriwayatkan dari Abu HUrairah : Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib : Engkau bersamaku dan syi’ahmu di surga “

52.     Allamah al Khahusyi menuliskan dalam kitabnya  Syarf al Nabi saw, ia meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah : Rasulullah SAW bersabda “ Aku sampaikan kabar gembira kepadamu wahai Ali, engkau dan syi’ahmu berada di surga”

53.    Allamah al Amritsari al Hanafi meriwayatkan dalam kitabnya Rajih al Mathalib meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah : Rasulullah SAW bersabda “ Aku sampaikan kabar gembira kepadamu wahai Ali, engkau dan syi’ahmu berada di surga”

54.     al Haitsami dalam kitabnya Majma al Zawa’id , meriwayatkan bahwa dalam kutbahnya Rasulullah saw bersabda : ” Wahai Manusia, barang siapa membenci kami, Ahlul Ba’it, Allah akan mengumpulkanya pada hari kiamat sebagai Yahudi. ” Jabir bin Abdullah bertanya, “Wahai Rasulullah, walaupun ia mengerjakan puasa dan sholat ? beliau saw menjawab : ” Sekalipun ia mengerjakan puasa dan sholat dan menyatakan dirinya sebagai muslim. Dengan demikian, siapa yang menumpahkan darahnya, hendaknya membayar jizah dan mereka itu kecil. Kepadaku diumpamakan umatku dengan buah tin, lalu para pembawa bendera berlalu dihadapanku. Maka aku memohon ampunan untuk Ali dan syi’ahnya”.

55.    Ibnu ‘Asakir  dalam Kitab Tarikh 2/442  meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa  dalam kutbahnya Rasulullah saw bersabda : ” Wahai Manusia, barang siapa membenci kami, Ahlul Ba’it, Allah akan mengumpulkanya pada hari kiamat sebagai Yahudi. ” Jabir bin Abdullah bertanya, “Wahai Rasulullah, walaupun ia mengerjakan puasa dan sholat ? beliau saw menjawab : ” Sekalipun ia mengerjakan puasa dan sholat dan menyatakan dirinya sebagai muslim. Dengan demikian, siapa yang menumpahkan darahnya, hendaknya membayar jizah dan mereka itu kecil. Kepadaku diumpamakan umatku dengan buah tin, lalu para pembawa bendera berlalu dihadapanku. Maka aku memohon ampunan untuk Ali dan syi’ahnya”.

56.    Kitab Tahdzib  juz VI hlm 67 cet al Turuqqi, Damaskus meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa  dalam kutbahnya Rasulullah saw bersabda : ” Wahai Manusia, barang siapa membenci kami, Ahlul Ba’it, Allah akan mengumpulkanya pada hari kiamat sebagai Yahudi. ” Jabir bin Abdullah bertanya, “Wahai Rasulullah, walaupun ia mengerjakan puasa dan sholat ? beliau saw menjawab : ” Sekalipun ia mengerjakan puasa dan sholat dan menyatakan dirinya sebagai muslim. Dengan demikian, siapa yang menumpahkan darahnya, hendaknya membayar jizah dan mereka itu kecil. Kepadaku diumpamakan umatku dengan buah tin, lalu para pembawa bendera berlalu dihadapanku. Maka aku memohon ampunan untuk Ali dan syi’ahnya”.

Selain yang kami sebutkan di atas terdapat pula simber-sumber  lain yang dapat dirujuk :

1.    Tafsir Jami’ al Bayan karya ath Thabari.
2.    Tafsir ad Durr al Mansur karya as suyuthi (juz 6 hal 379)
3.    Tafsir Fath al Qadir (juz 5 hal 398)
4.    Tafsir Ruh al Ma’ni karya al Alusi (juz 16 hal 370)
5.    Al Manaqib karya al Khawarizmi (hal 111)
6.    Kunuz al Haqa’iq karya al Mannawi ( juz 1 hal 150)
7.    Anshab al asyraf karya al Baghdadi (hal 182)
8.    Nadzm Durar as simtain karya az Zarandi (hal 92)
9.    al Fushul al Muhimmah karya Ibnu ash Sabbagh al maliki (hal 107)
10.    Nur al Abshar karya asy Syablanji (hal 78)
11.    Tadzkirah al Huffadz karya Sibth Ibnu al jawzi (hal 28)
12.    Syawahid at Tanzil karya al Hakim al Hiskani (juz 2 hal 356)

Penutup

Dengan tanpa memberikan analisis apapun terhadap riwayat diatas seshungguhnya hadis tersebut telah menjelaskan dengan sendirinya, bahwa, syi’ah didirikan oleh Rasulullah SAW dengan merujuk pada maksud ayat Al Qur’an :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh  mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS.AlBayyinah: 7-8)  yang kemudian oleh Rasullah SAW dijelaskan bahwa ayat tersebut ditujukan kepada Imam Ali  (dan Imam Ahlul Ba’it) serta para syi’ah.
Sebenarnya dengan berdasar QS Al Bayyinah 7-8 yang kemudian dijelaskan maksudnya oleh Rasulloh tersebut meruntuhkan pandangan tentang riwayat yang menyebutkan bahwa Syi’ah adalah hasil kreasi dari orang yang bernama Abdullah bin Saba’. Alasanya sederhana saja, Imam Ja’far memerintahkan untuk menguji validitas sebuah hadis itu dengan Al Qur’an [20] bila hadis itu bertentangan dengan Al Qur’an maka dengan sendirinya hadis tersebut gugur validitasnya, meskipun periwayatanya sahih. Al Qur’an itu adalah kebenaran mutlak dan absolute sedangan para periwayat hadis adalah makhluk yang bersifat relatif sehingga alat ukur kebenaran adalah kebenaran yang paling mutlak itu sendiri. Pada kasus riwayat Abdullah Bin saba’  (baik yang diriwayatkan melalui hadis-hadis ahlu sunnah maupun syi’ah) dengan memperhatikan riwayat diatas  hadis kisah Abdullah bin saba’ runtuh dengan sendirinya, dan yang meruntuhkan adalah Al Qur’an serta penjelasan Rasulullah SAW. [21]
Konsekuensi logis dari perjalanan intelektual dan spiritual insane manusia membawa pada satu muara untuk menapaki tangga pertama, bahwa pintu masuk menjadi insane yang diridhoi  adalah melalui pintu masuk bernama Syi’ah.

Wallahu ‘alam bhi showab.

Setelah memaparkan tentang siapakah pendiri madzhab syi’ah maka pada tulisan selanjutnya kami akan membahas siapakah para syi’ah awal  tersebut, melalui kitab al Fuzhul al Muhimmah hal 189-200 akan kami paparkan para sahabat-sahabat pengikut syiah.

(BERSAMBUNG DI TULISAN KE DUA : MENELADANI PARA SAHABAT MEMILIH SYI’AH SEBAGAI MADZHAB)

[1]  Alamah Husain Thabathaba’i, Islam Syiah, hal 32.

[2]. al Fairuzabadi, al Qamus dalam kata sya’a.

[3] Abu Bakar Atjeh, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, mengutip dari Lisanul Arab dan Kitab Basyarat Syi’ah.

[4]  Ayatullah Ja’far Subhani  menunjukan berbagai kekeliruan dan distorsi dari tulisan asy syahrastani dalam kitabnya yang judulnya sama al Milal wa nihal.

[5] Lihat di catatan kaki  di buku Identitas Madzhab Islam, karya Ali Zaenal Abidin hal 35

[6] Ibid

[7] Mengutip pernyataan Ayatullah Murthadha Askari yang melakukan risert terhadap kisah Abdullah bin Saba’.

[8] Penyesalan Ahmad Amin yang menuduh Syi’ah dengan Keburukan ini dapat dibaca dalam kitab “Ashl Asy Syi’ah wa Ushuluha” pada halaman 72

[9] Pada artikel berikutnya akan kami sampaikan bahwa ke washian Imam Ali adalah nash dari Illahi dan Rasulullah sendiri yang menyampaikan.

[10] Identitas madzhab Syi’ah karya Ali Zaenal Abidin hal 49

[11] ibid

[12] Silahkan rujuk ke Tahdzib at Tahdzib, Mizan al I’tidal, Tadzkirah wl Maudhu’at dan Lisan al Mizan.

[13] Ahmad al Wa’ili, Huwiyyah at Tasyayyu’ hal 131.

[14] Analisa kisah Abdullah bin Saba’ dari jalur non Syaif Ibnu Umar at Tamimi dikutip dari Encylopedia Shi’a

[15] Ibid halaman 555-556

[16] Dikutip dari artikel yang dipostingkan oleh Ibn Yahya yang berjudul Putra Yahudi.

[17] Kalimat diatas dapat dilihat dalam  Tarikh Ya’qubi jilid 2 hal 171 dan kitab ansab al Asyraf  karya Baladzuri  jilid V hal 31, 36, 37. kalimat tersebut juga dikutip oleh  Dr Ali al wardi dalam kitab Wu’adh Salathin  yang melakukan risert tentang Abdullah bin Saba’ juga dimuat dalam buku tebal History of the Caliphs : From the death of the mesenger (SAW) to the decline of the Umayyad Dynasty 11-132 AH hal 170 dan seterusnya.

[18] Sebagaimana tertulis dalam Ansab al Asyraf karya Baladzuri yang dikutip oleh buku Antologi Islam  hal 561 danal Fitnah al kubra  Jilid I dan Jilid II

[19]. . Al Hafizh Abu Na’im adalah ulama ahli hadis terkemuka dari kalangan ahlu sunnah,  Ibn Khalkan dalam kitabnya wafiyat al a’yah mengatakan ” bahwa ia termasuk perawi hadis yang terpercaya dan ahli hadis yang handal. menurut Ibn Khalkan, kitab Hilayah al awliya yang mencapai 10 jilid merupakan kitab terbaik.  Pujian yang sama diberikan oleh Shalahuddin al Shafadi dalam kitabnya al wafi bi al wafiyat, ia menyebut al hafizh Abu Na’im sebagai mahkota ahli hadis. Pujian yang sama juga diberikan oleh Muhammad bin Abdullah al Khatib dalam kitabnya Misykat al mashabih, ia mengatakan ia termasuk guru hadis yang tsiqat, dan pendapat-pendapatnya menjadi rujukan.
[20] Seperti diketahui bahwa disiplin Ilmu hadis dalam Madzhab ahlu Sunnah untuk menguji validitas hadis menggunakan pengujian Jarh wa Ta’dil  Sanad an sich, sedangkan dalam kalangan Syi’ah validitas hadis selain menggunakan pengujian Jarh wa Ta’dil  Sanad maish dilanjutkan di uji dengan Al Qur’an.

[21] Bahwa kelemahan hadis Abdullah bin Saba’  kemudian ditunjukan dari sisi periwayatan  oleh As sayyid Murthadha al Askari dalam karya beliau  Abdullah bin saba wa ashathir ukhra, dan  Khamsun wa Mi’ah Shahabt Mukhtalaq dan Abdullah  Bin Saba. Serta dalam  buku karya Ustd  M Hashem, Abdullah  Bin Saba benih perpecahan Umat  dan Abdullah bin Saba’ dalam polemik. Fenomena ini menjadi bukti bahwa jika Al Qur’an dan Sabda Rasulullah SAW meruntuhkan pandangan   pendiri syi’ah adalah Abdullah Bin saba’ maka  pembuktian kelemahan dalam riwayat tersebut menjadi lebih mudah. Sebagaimana dapat anda sekalian baca di ke empat buku tersebut yang membahas kisah abdullah bin saba’ dari riwayat Ahlu Sunnah dan Syi’ah baik dari jalur Saif bin Umar at Tamimi ataupun yang diluar jalur riwayat at Tamimi.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: