KEBOHONGAN AHLU SUNNAH TENTANG KISAH “PASIEN TERAKHIR”

Kebohongan tentang mut’ah kembali di dengungkan oleh nawashib dan pada saat yang sama segera dibongkar oleh pecinta ahlul ba’it….

Blog Halusiyah & Anto salafy menuliskan :

AKHIR PETUALANGAN SI PASIEN TERAKHIR

Pasien Terakhir
Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboraturium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vagina discharge).

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan akne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Sejenak dokter Hanung menapat pasiennya. Tidakseperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboratorium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboratorium. Rasanya ada hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang yang sering berganti-ganti pasangan sexual.

Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamsese lagi secara cermat.

 “Saudari masih kuliah?”
 “Masih Dok”
 “Semester berapa?”
 “Semester tujuh Dok”
 “Fakultasnya?”
 “Sospol”
 “Jurusan komunikasi massa ya?”
Kali ini ganti pasien terkahir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

 “Kok dokter tahu?”
 “Aah,…….. tidak, hanya barang kali saja!”

Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.

 “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?”

Pasien terkahirnya itu tampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

 “Ada apa sih Dok …. Kok tanya macam-macam?”
 “Aah enggak,… barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita!”

Pasien terkahir itu tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal ia menjawab:

 “Saya dari Pekalongan”
 “Kost-nya?”
 “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63”
 “Di kampus sering mengikuti kajian islam yaa”
 “Ya, … kadang-kadang Dok!”
 “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Sekali lagi pasien itu menatap dokter Hanung.

 “Bang Jalal siapa?”
Tanyanya dengan nada agak tinggi.

 “Tentu saja Jalaluddin Rahmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia… kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin”
 “Ya,…. kadang-kadang saja saya ikut”
 “Di Pekalongan,… (sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

Pasien terakhir itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang terkahir itu, tetapi dia segera menjawab

 “Tidak! Siapa yang dokter maksudkan dengan nama itu dan apa hubungannya dengan penyakit saya?”

Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-tanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai.

Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata,

 “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…”

Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan di lontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

 “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini”
 “Sakit apa Dok?”.

Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat penasaran.

 “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya menyokong diagnosis gonore, penyakit yang disebabkan hubungan sexual”.

Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

 “Tidak mungkin!!!”

Dia lantas terduduk di kursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandang matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi.

Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jerit pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkiti perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya saja yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore hari itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah. Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.

 “Bagaimana saudari,… penyakit yang anda derita ini tidak mengenali kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya itu tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti diri anda. Kalau itu masa lalu saudari baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah, … atau mungkin ada kemungkinan lain,…?”

Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

 “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya!” katanya terbata-bata.
 “Terserah saudari,… tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”
 “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang thaat kepada hukum Allah?”
 “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,… tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?”

Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh dengan tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasien terakhirnya itu.

 “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,… sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut”.
 “Tidak dokter,… selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at islam,… saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter!”.

Dokter Hanung mengerutkan keningnya men-dengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh paiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi….

 “Barangkali anda biasa kawin mut’ah?”

Pasien terakhir itu mengangkat muka.

 “Iya dokter!”
“Apa maksud dokter?”
 “Itukan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas!”
 “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam Dok!”

Pasien terakhir itu membela diri

 “Ooo,… jadi begitu,… kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin selamat”.

 “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis”.

Sampai disini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasien terakhirnya yang tidak punya aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

 “Terserah apa kata saudari membela diri,…. Anda lanjutkan petualangan seks anda. Dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…..atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan”.
 “Ma…maaf Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!”

Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasien terakhirnya yang terbata-bata itu.

 “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,…sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti”.
 “Ba…BBaik Dok,…Insya Allah akan saya hentikan!”

Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien yang terakhirnya itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

 “Berapa Dok?”
 “Tak usahlah,…saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan yang benar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Saya relakan itu untuk membeli resep saja”.

Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung.

 “Terimah kasih Dok,…permisi!”

Perempuan itu kembali melangkah satu-satu di peralatan rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang sekana menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai digerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang di telan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran di sore itu.

Secondprince menanggapi :

Kepalsuan Kisah Pasien Terakhir

Belum lama ini beredar cerita murahan di internet yang disebarluaskan oleh mereka yang mengaku pengikut salafiyun. Kisah yang katanya tragis dari seorang perempuan yang katanya penganut Syiah. Kisah mengenai penyakit yang diderita akibat melakukan nikah mut’ah. Kisah ini dapat anda lihat disini

Kesan pertama kami saat membaca kisah ini adalah aneh alias ada yang janggal dan setelah membaca kisah ini maka kami dapati bahwa kisah ini palsu alias tidak berdasar. Sebaik-baik bukti kepalsuan kisah ini justru berada di dalam isi kisah tersebut. Kajian ini hanyalah analisis kami mengenai kisah tersebut, sebelumnya saya ingatkan analisis ini tidak akan membahas soal nikah mut’ah yang kontroversial itu. Pembahasan tentang hukum nikah mut’ah sudah cukup banyak dipaparkan baik oleh Sunni maupun Syiah, dan silakan ambil yang menurut anda benar.

Mengapa kisah pasien terakhir tersebut kami katakan palsu?. Petunjuk pertama kepalsuan kisah tersebut adalah tidak jelas dari mana sumbernya. Sumber infonya tidak  valid (dari buku yang tidak tahu juga tuh penulis mengambil dari mana), yah kalau dalam ilmu hadis mah kisah seperti itu tidak ada sanadnya. Maksudnya begini, di dalam kisah tersebut terdapat dialog antara dokter dan pasiennya yang bersifat rahasia dan tentu dialog seperti ini hanya bisa diketahui oleh

  • Dokter yang bersangkutan
  • Pasien yang bersangkutan alias perempuan malang tersebut

Anehnya format cerita adalah dalam bentuk orang ketiga. Si pencerita memposisikan diri sebagai orang luar yang menceritakan dialog antara dokter dan pasien. Tidak ada dalam kata-kata tersebut pengakuan bahwa yang bercerita adalah dokter yang bersangkutan atau malah pasiennya sendiri. Nah siapakah pihak ketiga yang tidak jelas ini dan bagaimana bisa dia mengetahui dialog rahasia tersebut?. Apalagi yang cukup mengagumkan adalah pemaparan yang terlalu detail bahkan sampai ke pikiran atau lamunan orang lainpun bisa diketahui oleh pihak ketiga tersebut. Simak bagian cerita yang ini

Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan akne vulgaris (jerawat) yang ia alami.
Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.
Dokter Hanung mengerutkan keningnya men-dengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya

Si Pencerita ini memang sungguh luar biasa, kemampuannya memaparkan detail peristiwa sampai ke pikiran dan perasaan orang lain patut diacungi jempol. Tapi masalahnya bagaimana dia tahu?. Lain halnya kalau cerita itu fiktif belaka maka sudah pasti si pencerita tahu segalanya sampai ke pikiran dan perasaan orang, lha kan dia yang buat cerita.

Petunjuk kedua kepalsuan kisah ini adalah matan(isi) kisah tersebut mungkar. Kemungkarannya terletak pada aspek kerahasiaan. Dialog antara dokter dan pasien di klinik bersifat rahasia dan itu tercatat atau terdokumentasi dalam  apa yang disebut Rekam Medis. Apa yang terjadi di antara dokter dan pasien dimulai dari identitas, anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium dan terapi adalah isi rekam medis yang sifatnya rahasia. Hal ini tidak begitu mudahnya menjadi makanan publik. Hukum dan Etika kedokteran jelas sangat melindungi isi rekam medis. Silakan pembaca googling soal Rekam Medis dan aspek hukumnya agar mengetahui dengan jelas apa yang saya maksud. Kisah tersebut mungkar karena memaparkan isi rekam medis yang bersifat rahasia yaitu identitas, anamnesis, diagnosis dan hasil laboratorium pasien

Identitas penderita yang dapat dilihat dari penggalan cerita yang ini

“Saudari masih kuliah?”
 “Masih Dok”
 “Semester berapa?”
 “Semester tujuh Dok”
 “Fakultasnya?”
 “Sospol”
 “Jurusan komunikasi massa ya?”
Kali ini ganti pasien terkahir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.
 “Kok dokter tahu?”
 “Aah,…….. tidak, hanya barang kali saja!”
 “Saya dari Pekalongan”
 “Kost-nya?”
 “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63”
 “Di kampus sering mengikuti kajian islam yaa”
 “Ya, … kadang-kadang Dok!”
 “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Identitas perempuan bercadar tersebut lumayan detail yaitu Mahasiswa Semester 7 Fakultas Sospol jurusan komunikasi massa dari pekalongan tinggal ngekos di Wisma Fathimah Jln Alex Kawilarang 63. Kira-kira dengan info seperti ini siapa sebenarnya perempuan tersebut (kalau memang ada) akan mudah sekali diketahui (oleh orang yang ada disana tentunya).

Anamnesis antara dokter dan pasien benar-benar jelas dalam kisah tersebut. Pembaca seolah dibuat ikut menyaksikan secara langsung dialog tersebut. Tapi poin penting yang sangat rahasia adalah isi rekam medis yang meliputi Keluhan utama pasien yang tampak dari penggalan cerita

Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vagina discharge).

Diagnosis Pasien dan Pemeriksaan Laboratorium yang tampak dari penggalan cerita

“Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya menyokong diagnosis gonore, penyakit yang disebabkan hubungan sexual”.

Secara hukum isi rekam medis adalah milik pasien dan hanya bisa dipaparkan atas permintaan pasien sendiri atau oleh dokter yang bersangkutan demi kepentingan peradilan atau hukum. Pemaparan seenaknya kepada publik tanpa kepentingan apapun melanggar kerahasiaan rekam medik secara hukum.

Apakah Pasien sendiri yang mengungkapkan kisah ini?. Melihat cerita tersebut maka hal tersebut mustahil dengan alasan

  • Pasien yang bersangkutan tentu tidak akan mau membuka aibnya sendiri apalagi dijadikan makanan publik  yang tersebar kemana-mana. Mau ditaruh dimana itu muka? Dan tolong diperhatikan identitas pasien tersebut terlalu detail (alamat, jurusan dan fakultas) sehingga tidak mungkin kalau pasien sendiri yang bercerita. Jika anda pasiennya adalah lebih masuk akal kalau anda merahasiakan identitas diri agar tidak mempermalukan diri sendiri.
  • Pasien mengaku mahasiswa jurusan sospol tetapi penceritaannya menggunakan bahasa medis seperti disuria, vaginal discharge, gonore, pioderma dan akne vulgaris. Lebih mungkin kalau yang bercerita adalah orang yang berkecimpung di bidang medis.

Apakah sang Dokter yang mengungkapkan kisah ini?. Hal ini juga mustahil dengan alasan

  • Dokter tidak memiliki hak atas isi rekam medis, isi rekam medis sepenuhnya milik pasien dan dokter hanya bisa mengungkapkan isi rekam medis dalam kepentingan hukum atau peradilan.
  • Seorang dokter tahu betul akan kerahasiaan isi rekam medis, jadi jika ia yang memaparkan cerita ini maka ia pasti akan memberikan penjelasan terlebih dahulu seputar masalah kerahasiaan rekam medis. Ia akan menjelaskan dengan detail bagaimana bisa ia punya hak untuk menceritakan kisah yang didalamnya terdapat isi rekam medis pasiennya sendiri. Sayang sekali dalam cerita pasien terakhir ini tidak ada sedikitpun penjelasan sang dokter soal rahasia rekam medis.
  • Secara etika seorang dokter akan menghindari penjelasan yang terlalu detail mengenai identitas pasien ataupun diagnosis pasien, apalagi untuk dipaparkan kepada publik padahal tidak ada kepentingan hukum yang mendesaknya.

Kalau bukan pasien dan dokter lalu siapa? Sepertinya kembali ke pihak ketiga yang tidak jelas juntrungannya. Dan seandainya diketahui siapa pihak ketiga ini maka perlu dipertanyakan bagaimana bisa ia mengetahui isi rekam medis yang nampak dalam kisah tersebut. Ujungnya juga balik lagi dari pasien sendiri atau dokter, lha mereka mustahil bercerita, nah lantas dari mana, dapet wangsit atau bisikan-bisikan atau kabar dari langit :mrgreen:

Dalam cerita di atas juga ada kejanggalan, jika seorang wanita dinyatakan menderita gonore maka seorang dokter sudah seharusnya bertanya mengenai status perempuan tersebut apakah memiliki suami atau tidak?. karena jika memiliki suami maka dokter akan menyarankan agar suaminya juga ikut diperiksa. Anehnya hal penting seperti ini tidak ada dalam kisah tersebut. Hal janggal lain adalah seorang dokter dalam kasus seperti itu seharusnya menjelaskan aspek terapi secara lebih detail kepada pasien dimulai dari penggunaan obat, apa, bagaimana dan berapa lama, biaya obat yang sanggupkah dibeli pasien dan usaha pencegahan agar penyakit tersebut tidak menular ke pasangan pasien (ada juga malah justru kembali melanggar rahasia isi rekam medis). Aspek seperti ini tidak muncul dari dokter di kisah tersebut yang ada si dokter hanya memberi secarik kertas resep saja, seolah semuanya akan terjelaskan begitu saja. Hal yang menguatkan bahwa kisah ini hanyalah rekaan. Jika pencerita saja bisa menceritakan dengan detail soal pikiran dan lamunan serta kondisi kamar periksa dokter meliputi meja kamar tidur dan posisi wastafel, kok penjelasan dokter soal terapi malah tidak ada. Aneh bin ajaib ;)

Kebatilan lain dari kisah tersebut adalah ada unsur yang dapat menyebabkan munculnya fitnah yaitu seputar identitas alamat pasien atau fakultas dan jurusan mahasiswa. Kisah ini dapat memicu munculnya anggapan yang tidak-tidak dari publik kepada orang-orang yang ada kaitan dengan alamat, fakultas atau jurusan yang dimaksud. Hal ini memperkuat kemustahilan pasien atau dokter untuk memaparkan kisah seperti ini ke publik. Sepertinya kisah murahan ini tidak lain dibuat hanya untuk merendahkan mahzab tertentu atau orang-orang tertentu. Menurut anda etiskah menyebutkan nama-nama seperti Jalaludin Rakhmat dan Ahmad Baraghbah (sepertinya pencerita juga salah dalam menyebutkan nama) dalam kisah ini?. Yang menarik perhatian, cerita murahan seperti ini justru getol sekali disebarkan or dikopipaste oleh mereka yang mengaku pengikut salafiyun . Mereka yang katanya berpegang pada kabar-kabar shahih ternyata berhujjah dengan kisah palsu untuk merendahkan mahzab yang tidak mereka suka atau merendahkan orang-orang tertentu (segitu putus asanya mereka sampai berhujjah dengan kisah yang dibuat-buat). Lucu juga kalau melihat orang yang sok berjalan di atas jalan yang lurus bahkan tidak bisa menilai suatu kabar yang valid atau sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhir kata ini hanya sebuah analisis singkat dan apa adanya sesuai data yang ada.

Salam Damai


About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: