BENARKAH SYI’AH HANCURKAN MASJID SUNNI ? Otto kritik pada para penghancur Rumah Nabi

Al Baqi sebelum di hancurkan

Zacky Falhum (facebooker anti syiah) menuliskan :

dan apakabar iran???bagaimana keadaan saudara2 ahlussunnah wal jamma’ah kita disana??taukah saudara2???apakah perbedaan masjid syi’ah dan masjid sunni di iran?????perbedaannya adalah begitu banyak masjid2 syi’ah disana tetapi tidak ada satupun masjid sunni di iran kecuali dihancur leburkan dan dipermak menjadi masjid syi’ah lengkap dgn imamnya..itulah perbedaannya!!!!!!
apakabar ulama2 sunni diiran???bagaimana kehidupannya disana???tolong anda2 cari tau dulu dgn berbagai referensi,,baru kita buka diskusi disini.
syukran……..

Em Syaikhul Islam (Facebooker anti syi’ah group inilah syiah dan penjelasanya II) mempostingkan :
first published in Asharq AL AWSAT ON 28/04/2010
By Khaled Mahmoud
Cairo, Asharq Al-Awsat- the Iranian government issued on 27/04/2010 a decision banning Sunni Muslims from praying at state universities and military camps, Asharq Al-Awsat has learnt. This decision comes within the framework of pressurizing the Sunni community in Iran, which has been taking place for decades. This ban, which was confirmed by Sunni sources in Tehran, came after Sunni Muslims were banned from holding communal Friday prayers services in their homes in cities like Isfahan, Shiraz, Kerman, and Yazd. Sheikh Abdul-Hamid Esmaeel Zahi, the highest authority for Sunni Muslims in Iran and the imam and preacher of the Makki Mosque, the largest Sunni mosque in Iran located in the city of Zahedan, expressed his sorrow at the ban. He said,    “We are very sorry that some elements have come forward to ban Friday prayers from being held in the home and placed restrictions on this practice. This group is ideologically deviant and they truly have a narrow outlook and are overly sensitive with regards to [Sunni] mosques and schools and advocacy.” Sheikh Zahi criticized this decision, stating that the Iranian constitution does not prevent any religious group from practicing its faith, regardless of its sect. He added,     “There should not be a ban on performing prayers, rather everybody should be invited to perform prayers, and we hope that all Sunnis and Shia take the initiative to perform this obligation that is the most important pillar of Islam after belief in the oneness of God.” Sheikh Zahi considered the objection of officials to the construction of mosques, schools, and religious centers for Iran’s Sunni community to be completely contrary to the principles of Iran’s Islamic government. He said,
“There are some [Sunni majority] villages where only one Shia family lives, and the government builds a [Shia] mosque. However the problem is that they do not allow us to build mosques or religious schools in large cities that are home to large Sunni communities.” He added that the officials who object to Sunnis praying at university do not have religion or any knowledge of God. Sheikh Zahi said that somebody who hates to pray behind or beside somebody from a different Muslim sect is showing signs of extreme ignorance. Sheikh Zahi said, “I call on the country’s officials and the Supreme Leader…to grant the freedom to pray in every place, which is the least right granted to us in the constitution, and that is the freedom to conduct communal and Friday prayers.”
He stressed that the most important concern for the Sunni community in Iran is the issue of jurisprudence, saying “we do not feel that there is a problem with regards to the constitution, however there is despotism from some extremist elements in some regions that have Sunni minorities, and this is something that concerns us.”Sheikh Zahi added,     “The representative of the Supreme Leader has banned the Sunni community from conducting Friday prayers in a number of [Iranian] cities, however the Sunni community in this city – even if it is a minority – wants to perform Friday prayers, however the Supreme Leader’s representative rejected this saying ‘let them follow my example [of praying in the Shia way] in their prayers.”
Sheikh Zahi has denounced such negative practices, and asked what law – national or Islamic – is able to take away the rights of Sunni Muslims to perform independent communal Friday prayers in any area of the country?

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi

Makam Baqi saat dihancurkan

Masyarakat Islam di Indonesia barangkali sengaja dibuat tidak tahu akan fakta bahwa kelompok yang mengaku ahlu sunnah wal jama’ah pernah melakukan tindakan berutal dengan meratakan Jannat al-baqi,  penghancuran rumah Rasulullah dan Khadidjah, penghancuran rumah  Imam Shadiq, penghancuran rumah ayah Rasulullah, penghancuran Suq al Leil  (tempat yang menandai tempat lahir Rasulullah saw),  perencanaan penghancuran al Kubbatul Khadra, penghancuran Rumah Abu Ayyub al Anshari, bahkan makam para istri-istri Rasulullah pun di telantarkan (lihat

Rumah Khadidjah yang dihancurkan

fotonya di syiahnews.wordpress.com). Seolah ingin lempar batu sembunyi tangan, sekarang mereka berteriak dimana-mana  seolah sebagai  golongan yang tertindas, mereka menyerukan bahwa masjid-masjid ahlu sunnah di Iran di hancurkan !!! lihatlah ahlu sunnah di iran dilarang ini dilarang itu !!! lihatlah mereka hendak menghancurkan ahlu sunnah !!!, pertanyaanya benarkah itu ? Allah azza wajalla sudah sedemikian banyak membuka kedok mereka, kedok tentang kebohongan yang menjungkir balikan tuduhan mereka. (silahkan baca di blog syiahnews.com tentang benarkah syiah berkhianat 1-5. Sebelum kita bonbgkar kebohongan mereka, adalah perlu untuk sekali lagi menunjukan kepada mereka tentang kejahatan mereka terhadap peninggalan Rasulullah saw dan ahlul ba’itnya berikut keluarga dan para shabatnya.

Tragedi Penembakan Ka’bah dengan pelontar batu (Manjaniq)

makam-siti-aminah-ibunda-rasulullah

Adalah Yazid bin Muawiyah yang dipuja-puja kelompok ahlu sunnah -  bahkan sebuah kitab berjudul “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” dipersembahkan syekhul sunni Ibnu taimiyah kepada  Yazid dan Muawiyah – telah melakukan tindakan yang diluar akal waras.  Yazid memerintahkan Hushain  bin Numair agar melakukan penmebakan alterei batu itu setiap hari ke arah Makkah, dan termasuk arah tembakan adalah  Baitullah al-A’dzam, Ka’bah al-Musyarrafah. [1] Adakah imam-imam syi’ah atau ulama-ulama syi’ah pernah berbuat semacam itu ? siapakah Yazid ? bukankah dia tokoh penting dalam ahlu sunnah. Jika ada ahlu sunnah berdalih Yazid bukan amirul mukminin, bukankah kelompok yang menamakan diri ahlu sunnah wal jama’ah itu baru mengakui kekhalifahan Ali pada tahun masa ibnu Hanbal,  lihat kesaksian Ibnu Abi Ya’la melalui jalur Wudaizah al Hamshi [2]. Kalau kemudian kelompok ahlu sunnah menuduh syi’ah melakukan penghancuran dari dulu sampai sekarang, hal itu merupakan tuduhan tanpa bukti.

Tragedi  8 Syafal 1345 H  Penghancuran Jannatul al Baqi

Rabu 8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum (kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud yang sunni wahabi itu. Di tahun yang sama diperintahkan pula untuk menghancurkan makam orang-orang yang disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di Jannat al-Mualla (Mekah). Bahkan sebelumnya pada tahun 1218 Hijriah kubah yang menaungi sumur Zamzam pun dihancurkan dan berikut adalah daftar  tempat yang dirusak itu :
1.    Penghancuran dan penodaan tempat suci ,di antaranya rumah kelahiran Nabi, pusara Bani Hasyim di Mekah dan Jannat al-Baqi (Madinah), penolakan wahabi salafy pada muslim yang melafalkan al-fatihah di makam-makam suci tersebut.
2.    Meratakan kuburan para keluarga Nabi di al-Baqi yang sangat di hormati kaum  muslim
3.    Pemakaman al-Mualla di Mekah termasuk pusara isteri tercinta Nabi, Sayidah Khadijah binti Khuwailid , Makam Ibunda Rasul Siti Aminah binti Wahhab, makam pamananda Rasul Abu Thalib (Ayahanda Ali bin Abu Thalib) dan makam kakek Nabi Abdul Muthalib.
4.    Makam Siti Hawa di Jedah
5.    Makam ayahanda Rasul Abdullah bin Abdul Muthalib di Madinah
6.    Rumah duka (baytl al-Ahzan) Sayidah Fatimah di Madinah
7.     Masjid Salman al_Farisi di Madinah
8.     Masjid Raj’at ash-Shams di Madinah
9.     Rumah Nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekah
10.     Rumah  Ja’far al-Shadiq di Madinah
11.    Komplek (mahhalla) bani Hasyim di Madinah
12.     Rumah Ali bin Abi Thalib tempat Hasan dan Husein dilahirkan
13.    Makam Hamzah dan para syuhada Uhud di gunung Uhud

Agar anda lebih jelas  silahkan melihat foto-fota yang diambil dari  buku Ummul Mu’minin, Khadijah binti Khuwaylid, Sayyidah Fie Qalby al-Mushtafa karya DR. Muhammad Abduh Yamani (lihat di syiahnews.wordpress.com). Apakah tindakan perusakan dan penghancuran situs-situs tersebut dilakukan oleh orang-orang syi’ah ? jawabnya tidak.  Dengan menampilakan fakta diatas jelaslah siapakah sebenarnya yang penghancur itu. Bandingkan dengan peninggalan-peninggalan keluarga Rasulullah saw yang berada di Iran tetap dipelihara dan dimakmurkan oleh orang-orang syi’ah dan pemerintahan  Republik Islam Iran yang syi’ah itu.

Adalah tindakan ironis tatkala situ milik yahudi yakni Benteng  Ka’ab Ibn Asyraf (seorang yahudi yang terbunuh oleh imam Ali saat perang tanding)  yang dahulu dipertahankan oleh balatentara Yahudi, dan saat direbut oleh Pasukan Rasulullah saw, beliau  SAW memerintahkan agar dihancurkan supaya tidak dijadikan basis membangun perlawanan Tetapi oleh pemerintahan Sunni wahabi salafy  situs  tersebut  justru di pelihara atas nama peninggalan bersejarah. Kementrian kebudayaan negara sunni  tersembut  sampai membuat catatan  kepingan dan serpihan reruntuhan benteng Haibar. Di depan benteng yahudi tersebut dituliskan ’Peninggalan Bersejarah Yang Harus Di Lestarikan”.

Fatwa Pembongkaran al Kubbatul Khadra

Perhatikan fatwa ulama sunni yang bernama Syaikh Muqbil al Wadi’iy  dalam kitabnya yang berjudul RIYADHUL JANNAH  syaikh tersebut memerintahkan agar kubah Hijau tempat yang menanungi tempat bersemayamnya jasad suci Rasulullah SAW di hancurkan perhatikan fatwa syaikh sunni ini : 1) WAJIB MEROBOHKAN QUBAH HIJAU PADA MASJID NABAWI  DIMANA DIBAWAHNYA TERDAPAT  MAKAM RASULULLAH SAW. 2- WAJIB  DIKELUARKAN DAN DIBUANG KUBURAN RASULULLAH MUHAMMAD SAW DAN DIKELUARKAN DARI MASJID NABAWI. (silahak lihat foto scan fatwa dan kitab dalam syiahnews.wordpress.com.
Adakah ulama-ulama syi’ah di Republik Islam Iran yang mengeluarkan fatwa semacam itu ? jawabnya tidak akan ditemukan fatwa konyol semacam itu. Barangkali penuduh akan mengeluarkan alibi bahwa mereka bukan ahlu sunnah tetapi wahabi, sekali lagi kami tegaskan, bukankah anda menggunakan argumen-argumen yang disusun oleh hakekat, halusiyah, gensyiah, abujauza dll yang semuanya menyatakan diri sebagai kelompok ahlu sunnah ? silahkan saja anda bertanya kepada mereka tentang siapa sesungguhnya mereka, dapat dipastikan bahwa mereka adalah ahlu sunnah.
Kalau kemudian diberbagai tempat diskusi di dongengkan bahwa masjid-masjid sunni di Iran di hancurkan, hal itu memang sengaja dihembuskan oleh orang-orang yang anti Republik Islam Iran, baik itu yang berasal dari dalam negeri Iran sendiri  – yang juga terdapat kelompok anti Republik Islam Iran (seperti Partai Tudeh-MKO, Gerakan Sekuler, Gerakan pendukung Monarki, Gerakan yang ingin memisahkan diri seperti  PDKI yang beraliran komunis itu) yang tujuanya untuk menciptakan kesan buruk di dunia internasional -. Sedangkan pihak di luar iran yang menghembuskan isu tersebut tidak lain dilakukan oleh orang-orang pendukung Konsep Dick Cheney, Tony Blair yang merumuskan  agenda memelihara  perpecahan dan ketegangan etnik [3] jadi kita takperlu kaget dengan isu-isu murahan tersebut

Situs – situs Sunni dirawaat oleh Pemerintahan Republik Islam Iran [4]

Di Republik Islam Iran banyak sekali terdapat peninggalan-peninggalan ahlu sunna dan sampai hari ini masih terpelihara dengan baik. Mislakan masjid jame’ sanandaj, bahkan nama salahuddin al ayubbi pun di abadikan sebagai nama jalan yang di sana dinamai dengan Khiyaban-e Salahed din al ayyubi,  orang-orang syiah hampir semua mengetahui bahwa saaldin al ayyubi adalah orang yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan masal  kaum syiah pada abad ke 6 hijriah, dan bertanggungjawab terhadap pembunuhan ilmuan islam bernama Suhrawadi (yang menelorkan banyak karya-karya besar), toh pemerintahan Iran menaruh hormat terhadap beliau, adakah hal yang sama dilakukan di negara-negara yang mayoritas sunni ?
Di masjid-masjid Iran pun adzan model sunni bebas dikumandangkan, bahkan jamaah sholatnya pun dapat sholat secara bersama-sama dengan semangat dan toleransi tinggi [5]  Pernikahan beda mazhab (sunni-syiah) banyak terjadi di Iran tanpa harus menemui kendala, dan jika salah satu atau keduanya berpindah mazhab dari syi’ah ke sunni atau sebaliknya hal itu biasa saja merka tidak akan mengalami sanksi sosial [6], tidak  seperti di negar-negara sunni, ambil contoh di Indonesia, jika anda pengikut gerakan Salafy dapat dipastikan akan mendapat sanksi sosial dari rekan sealiran jika menikah dengan orang lain gerakan, hal yang sama akan dialami di gerakan Tarbiyah yang memiliki lembaga Munakahat yang mengatur urusan pernikahan, demikian pula di gerakan Hizbut Tahrir dan gerakan lainya, padahal pernikahan itu dilakukan sesama mazhab.
Di daerah Negel Iran berdiri sebuah masjid bernama Masjid Abdullah bin Umar, masjid ini oleh pemerintaah Republik islam Iran yang syiah di sempurnakan sedemikian indahnya di dalam masjid tersipman manuskirip Al Qur’an kuno yang konon berasal dari masa Khalifah Utsman, hingga hari ini peninggalan itu masih dipelihara dengan baik. Di kota Shiraz situs-situs peninggalan sunni dipelihara dengan baik, seperti peninggalan dan makam  hafezh sirazi dan  sa’di (sang penyair besar sunni) , peninggalan dan makam sibawaih ( beliau adalah ulama besar ahlu sunnah konseptor besar dalam ilmu Nahwu), di kota Neyshabur  situs Omar Khayyam dan situs Attar  dua orang besar ahlu sunnah dibangun dengan sangat apik. Masyarakat ahlu sunnah  di kota sanandaj  dan Shiraz menjalankan kehidupan keagaamaan sesuai madzhabnya dengan leluasa. Terlalu banyak untuk disebutkan  lebih lanjut silahkan merujuk ke buku yang saya sebutkan dalam catatan kaki tersebut.

Negeri syiah yang melestarikan peninggalan pemikiran sunni
Hal yang sulit ditemui di negara-negara sunni termasuk di Indonesia adalah pemanfaatan peninggalan ulama-ulamanya sendiri (yang sunni) dalam kehidupan berbudaya,  di negeri kita ini yang memperihatinkan identitas kebangsaan  justru sedikit demisedikit tergerus dan termarginalisasikan oleh budaya-budaya barat. Karya-karya ulam-ulama besar ahlu sunnah jarang diketahui kalaupun ada itu hanya mangkrak di rak-rak buku sebagai hiasan bahwa si pemilik rumah adalah orang hebat karena memiliki koleksi buku-buku karya pemikir besar. Masyarakat syi’ah iran berbeda, rak perpustakaan mereka selain dipenuhi buku-buku dari kalangan mereka sendiri  juga disediakan buku-buku dari kalangan ahlu sunnah bahkan kitab-kitab picisan satiris yang menyerang syiah pun dikoleksi.
Di Iran yang negara-negaranya adalah penganut mazhab ahlul ba’it ( baca syiah) anak-anak sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi  memiliki tradisi yang menyemarakan karya-karya yang justru ditulis oleh ulama ahlu sunnah, seperti Jalaluddin Rumi, Sa’di, Hafez, Omar Khayyam, Ferdawsi, atthar nesyaburi dan tentu saja karya-karya ulama syi’ah, di kampus-kampus secara rutin mereka menggelar acara yang disebut dengan Ashr-e Ba Shi’r untuk membacakan karya-karaya mereka, luar biasa penghornatan mereka. Adakah dikalangan ahlu sunnah ada ? dimanakah acara-acara yang menghormati karya-karya ulama mereka sendiri ?

Pada bulan Agustus 2006,  pemerintah Republik Islam Iran secara aktif menyokong UNESCO untuk menjadikan Jalaludin Rumi sebagai icon kebudayaan dunia, dan akhirnya PBB melalui UNESCO pada tahun 2007 ditetaplam sebagai Tahun Jaluluddin Rummi, pertanyaanya, apa yang dilakukan oleh mereka yang dilakukan  mereka yang mengaku sebagai pengikut ahlu sunnah yang salah satu tokoh besarnya bernama Jalaludin Rummi itu ? selain caci maki dan supah serapah pada negar sunni, betapa kerdilnya pemikiran mereka, bahkan mereka sendiri hanya puas dengan jubah inisiasi sunni tapi miskin dari internalisasi peninggalan ulamanya sendiri, bandingkan dengan syi’ah sekalipun bukan ulama yang berasal dari kalangya, para ulama-ulama syi’ah  menunjukkan penghormatanya.  Bukan hanya itu, di tahun yang sama  pemikiran Muhammad Iqbal di usulkan pula sebagai khasanah internasional. [7]. Perhatikan apa yang dilakukan oleh Ayatullah Murthadha Muthahari,  sebuah buku kecil berjudul Dastan-i Rastan yang ditulis oleh beliau yang sejatinya ditulis sebagai persembahan untuk ayah dan gurunya, yang berisi kisah-kisah penuh makna,  akhirnya dipilih oleh UNESCO sebagai buku terbaik.  Dan  yang paling akhir usaha serius ulama-ulama syi’ah memperkenalkan prinsip-prinsip politik Imam Ali bin Abi Thalib, telah menyorong PBB untuk mengeluarkan himbaun kepada  negara-negara  Arab pada khususnya dunia dan dunia pada umumnya untuk meneladani sistem politik yang dilakukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib [8]
Adalah patut dipertanyakan pada para penebar berita dusta (seperti Zacky Falhum dan Em syaikhul Islam), kamipun bertanya sajikan data kepada kami apa yang telah dilakukan pemimpin-pemimpin anda untuk menghormati peninggalan ulama kalian sendri di pentas dunia internasional, sekali lagi ulama kalian sendiri saja, apa ? sebutkan dan carilah refensisinya (niscaya hanya akan anda temukan pengkhianatan terhadap ulama anda sendiri, ratusan fatwa pembawa bid’ah, penyesatan dan lain-lain padahal itu ulama kalian sendiri) dan setelah itu mari kita berdiskusi disini…

Wallahua’lam bhi showab

[1] Lebih lanjut silahkan lihat di Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah dan As-Suyuthi dalam kitab Tarikh al-Khulafa
[2] Lihat di Thabaqat al Hanabilah jiid 1.
[3] Silahkan merujuk ke  pernyataan John Bolton (mantan dubes AS di PBB) yang dikutip oleh Global Reserch dann artikel berjudul Bloog Borders tulisan Ralph Peters, di jurnal US Armed  forces, dalam artikel tersebut disebutkan plan  Barat menciptakan  destabilitas di timur tengah.
[4] untuk mengetahui detailnya silahkan merujuk ke buku  Pelangi di Persia Menyusuri Eksotisme Iran, kami hanya akan mengambil sebagian  saja.
[5] Ibid hal 145-149 lihat semangat toleransi orang-orang syi’ah iran.
[6] ibid 150-151
[7] Lebih jauh silahkan membaca tulisan Ammar Fauzi Heryadi, Republik Islam Iran : Menyongsong Tahun Jalaludin Rumi terbitan HPI edisi Agustus 2006.
[8] Silahkan lihat diblog lenteralangit.wordpress.com

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: