IMAM HUSAIN BUKAN IMAM ?

Bismillahirahmanirahim
Allahuma sholi ala Muhammad wa ala ali Muhammad

Putra Paripurna menuliskan :
Kelompok ketiga  Mereka adalah Ahlussunnah wal jama’ah, mereka berpandangan bahwa Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin). Dan beliau tidak dibunuh sebagai orang yang keluar dari jamaah, namun dibunuh secara zhalim dan gugur sebagai syahid. Rasulullah bersabda, “Al Hasan dan Al Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzy).

Ibnu Jawi al Jogjakartani menanggapi :

PRIBADI  YAZID BIN ABU SUFYAN

Dalam tulisan di atas disebutkan  bahwa Imam Husain bukanlah  pemimpin kaum Muslimin. Bagi saya pribadi tulisan tersebut masih belum selesai, saya hanya menaksir saja (dan semoga saja salah), mungkin penulis bermaskud menuliskan ” Al Husain dibunuh secara zhalim. Tapi, beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin) tetapi yang menjadi pemimpin adalah Imam Yazid bin Muawiyah”,    ada baiknya kita lihat bagaimana sejahrawan menuliskan pribadi yazid  bin Muawiyah mari kita lihat :

1. Al-Alusi mengatakan:
“Barangsiapa yang beranggapan bahwa prilaku Yazid tidak masuk kategori maksiat, sehingga dilarang untuk melaknatnya, maka sungguh ia tergolong penolong Yazid”.

2. Taftazani berpendapat:
“Kegembiraan Yazid atas terbunuhnya Husain merupakan satu bentuk penghinaan atas Ahlul Bait (keluarga Nabi), dan hal itu merupakan sesuatu yang mutawatirat maknawi (yang diterima oleh mayoritas walau tidak transparan”

3. Jahidh mengungkapkan:
“Berbagai kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Yazid, seperti; membunuh Husein, menawan keluarga Husein, memukuli kepala dan gigi Husein dengan kayu, menimbulkan rasa ketakutan penghuni Madinah, merusak Ka’bah, semua itu, sebagai bukti bahwa Yazid memiliki jiwa keras kepala, angkara murka, kemunafikan dan telah keluar dari keimanan, maka ia masuk kategori fasik dan terlaknat. Barangsiapa yang menghindari dari pelaknatan seseorang yang layak untuk dilaknat, maka iapun termasuk orang yang terlaknat”.

4. Seorang penulis besar Mesir Thaha Husein mengatakan:
“Sebagian beranggapan, Yazid bersih dari keterlibatan pembunuhan atas Husein dengan cara yang sangat memprihatinkan, sementara kesalahan sepenuhnya ditujukan kepada Ubaidillah. Jika memang hal itu benar, kenapa (Yazid) tidak mencela Ubaidillah? Kenapa ia tidak menghukum Ubaidillah? Kenapa ia tidak mencabut kedudukan Ubaidillah?

5. Abu al Faraj  ibnu al Jauzi  menuliskan dalam kitabnya  al Radd ’ala al Muta’ashshib al ’anid al mani ’an la Yazid la’anahu Allah ,  bahwa Yazid sering melontarkan syair-syair yang mencela Islam, saya kutipkan sebagian :

Syamsiyah dikenal dengan igoyang dan desahannya
Bagian kirinya adalah betisku
Dan bagian kananya adalah mulutku
Jika sehari aku mengharamkan agama muhmammad
Gantilah dengan agama al masih binti maryam

Perhatikan  pernyataan Yazid diatas  yang mengharamkan Agama  Rasulullah Muhammad  tersebut,  patutkah disebut Imam islam, khlaifah dan amirul mukminin ?

’Aliyah, kemarilah berdendanglah bersamaku
Engkau mengatakan bahwa aku tidak suka dengan bisiskan-bisikan
Sesungguhnya cerita tentang hari kebangkitan kita
Adalah cerita-cerita bohong, maka lupakanlah hal itu

Perhatikan syair yazid diatas  yang menolak adanya hari kebangkitan, patutkah seorang Amirul mukminin yang memimpin umat Islam mengingkari iman kepada hari akhir ?

Wahai teman-temanku para peminum, bangkitlah
Dengarkanlah suara para penyanyi
Minumlah dari botol-botol arak
Tinggalkan zikir kalian
Nyanyian hari raya telah menyibukan aku dari suara azan
Di dunia ini, aku telah mengganti bidadari dengan nenek tua
Perhatikan  syair yazid yang menganjurkan meninggalkan sholat dan mencibir paha dengan nenek tua serta  menganjurkan mabuk-mabukan, apakah ini Amirul mukminin Imam Umat Islam ?

Jika kemudian akhi Putra pari purna menyebut Ahlu Sunnah tidak menganggap Imam Husain bukan Imam dan yang menjadi Imam adalah Yazid bin Muawiyah,  berarti benar bahwa ahlu sunnah adalah kelompok penyimpang karena menolak  hari akhir, menolak sholat, menganjurkan mabuk-mabukan dan menghalalkan arak, bukankah Imam kalian Yazid bin Muawiyah berperilaku seperti itu ?

Husain bin Ali  bin Abi Thalib Imam Kaum Muslimin

Diatas sudah jelas pengakuan seorang ahlu sunnah yang menolak Imam Husain dan dengan agak malu-malu mengakui  mengikuti  Imamanya Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan yang menurut ulama mereka sendiri adalah sesat, maka tiba saatnya untuk mendengarkan siapa sesungguhnya Husain bin Ali ini berdasarkan  paparan Rasulullah saw. Kami persilahkan membaca tulisan saudara saya Ustd Ibnu Jakfar

Ibnu Jakfar menanggapi  (KEPERIBADIAN IMAM HUSAIN)

Banyak sekali hadis keutamaan dua cucu tercinta Rasulullah saw. yang beliau sabdakan. Hadis-hadis keutamaan itu selain menjelaskan maqam dan kemuliaan kedua cucu tercinta beliau itu, ia juga menetapkan sederatan konsekuensi yang harus dipatuhi oleh setiap Mukmin yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya…. Di antara konsekuensi itu adalah keharusan mencintai mereka, membela mereka dengan segala bentuk pembelaan, mencintai yang mencintai mereka dan memusuhi yang memusuhi mereka. Dalam kesempatan kali saya hanya akan menyebutkan beberapa saja di antara hadis-hadis shahih keutamaan mereka (semoga slam Allah atas keduanya).

Hadis Pertama:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Said ibn Abi Râsyid dari Ya’la al ‘Âmiri[1], ia keluar bersama Rasulullah saw. ke sebuah jamuan makan, ia berkata… Lalu Rasulullah memergoki Husain di kampong sedang bermain bersama teman-temannya, Nabi saw. bergurauengannya, Husain lari ke sana dan ke mari lalu  Nabi saw. mengambilnya dan menggendongnya, beliau meletakan salah satu tangan Husain di telengkuk beliau sementara tangan satunya di janggut, kemudian beliau meletakan mulut beliau di mulut Husain dan menciumnya dan berkata:

حُسَيْنٌ مِنِّيْ و أنا مِنْ حسينٍ ، أللهُمَّ أحِبَّ مَنْ أَحبَّ حسينًا ، حسينٌ سِبْطٌ مِنَ الأسباطِ.

Husain dariku dan aku dari Husain. Ya Allah, cintailah orang yang mencinta Husain. Husain adalah sibthun (anak) dari anakku.

Sumber Hadis:
* Imam Ahmad dalam Fadhâil:505, hadis 398. Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnadnya,4/172.
* Bukhari dalam at Târîkh al Kabîr,8/418 dan al Adab al Mufrad,1/455.
* Al Hakim dalam Mustadrak,3/177 dan ia mensahihkannya.
* Ad Dûlabi dalam adz Dzurriyyah al Kuna,1/88.
* Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf,7/515.
* Ath Thabarani dalam al Kabîrnya,3/33 dengan dua jalur dari Rasyid ibn Sa’ad dari Ya’la dan dari Said dari Ya’la dan dalam Musnad asy Syâmiyyîn,3/184.
* Ibnu Asakir dalam Târîkh Damasykus14/149 dan64/35
* dan beberapa ulama lain.

Makna Hadis:
Al Qâdhi menerangkan, “Husain dariku dan aku dari Husain, seakan Rasulullah saw. memandang dengan cahaya wahyu apa yang akan tejadi antara Husain dan kaum, umat, oleh karena itu, ia disebut secara khusus dan beliau menerangkan bahwa beliau dan Husain adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kewajiban untuk dicintai dan diharamkannya mengganggu dan memerangi. Sabda itu dikuatkan dengan, “semoga Allah mencintai orang yang mencinta Husain” sebab kecintaan kepada Husain adalah kecintaan kepada Rasulullah saw. dan kecintaan kepada Rasulullah saw. adalah kecintaan kepada Allah.[2]

Hadis Kedua:
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad sahih dari Abdur Rahman ibn Mas’ud[3] dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah keluar bersama  Hasan dan Husain menemui kami, yang satu di atas pundak kanan beliau dan yang satu di atas pundak kiri beliau, sambil menciumi keduanya sampai beliau tiba di hadapan kami, lalu ada seorang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah engkau mencinta keduanya! Maka Nabi saw. bersabda:

مَنْ أَحَبَهُما فقد أحبَّنِيْ و مَنْ أَبْغَضَهُما فقد أبغضَنِيْ.

Barangsiapa mencintai keduanya maka ia benar-benar mencintaiku dan barang siapa membenci keduanya maka ia benar-benar membenciku.[4]

Manfa’at Mencitai Ahlulbait Nabi as.
Banyak sekali hadis shahih yang menerangkan manfa’at yang akan diperoleh pecinta keluarga suci Nabi saw. diantaranya adalah apa yang disebutkan dalam hadis di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dari Imam Hasan ibn Ali as., “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

إلْزَمُوْا مَوَدَّتَنَا أهْلَ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَّنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا,وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ إلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا.

Teguhkan hatimu atas kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya barang siapa menghadap Allah  dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah  yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan bermanfa’at amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengenal hak kami (atasnya).”[5]

[1]Said ibn Abi Rasyîd, ia jujur percaya, shadûq, baca al Kâsyif; adz Dzahabi,1/360, al Mîzân,2/135 dan at Tahdzîb,4/26.
[2] Tuhfatu al Ahwadzi,10/279.
[3]Abdur Rahman ibn Mas’ud al Yasykuri disebut biodatanya oleh Ibnu Abi Hatim dan ia tidak mencacatnya, Ibnu Hibban menyebutnya dala daftar para perawi tsiqât (terpercaya),5/106, Al Haitsami mentsiqahkannya dalam Majma’ az Zawâid,5/240 ketika menyebut hadis riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya.
[4]Al Hakim meriwayatkan hadis ini dan mensahihkannya, dan adz Dzahabi  juga menshahihkannya. Baca Mustadrak; al hakim dan ringkasannya; adz Dzahabi,3/166.
[5] Al Mu’jam al Awsath,6/116, hadis nomer: 18.

Ibnu Jawi al jogjakartani menanggapi (IMAM HUSAIN KHALIFAH, AMIRUL MUKMININ DAN IMAM KAUM MUSLIMIN)

Ustd Ibnu Jakfari telah memaparkan keperibadian Imam Husain bandingkan dengan Yazid, dengan fakta tersebut jelas menurut akhi Putra Pari Purna, Ahlu Sunnah memilih Imam yang buruk moral dan perilakunya, dan mari kita lihat bagaimana Rasulullah mengangkat Imam Husain dan 11 Imam lainyam:
Pengumuman Rasul atas 12 Khalifah pasca beliau>

Dalam berbagai kesempatan Rasulullah saw mengumumkan bahwa kekhalifahan pasca belaiu saw mangkat berjumlah 12 orang hadis ini populer Bahkan dalam jurnal resmi Aktifis Penegak kekhalifahan  JURNAL ALWA’I masalah ini telah dikupas Ustadz anda Ustadz Yayaha Abdurahman, meskipun ada beliau mengalami kesulitan menguraikan siapa yang dimaksud 12 khalifah, sehingga harus mentoleransi sedemikian banyak nama sampai 73 nama khalifah. Berikut sekaligus meluruskan pendapat beliau yang juga diriwayatkan dalam kitab Ahlu Sunnah :

Jabir bin Samarah berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘akan datang dua belas orang amir’. Lalu Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang aku tidak dengar, kemudian ayahku berkata. Rasulullah saw berkata, semuanya dari suku Qurasy. (Shahih Bukhari, IX, Kitab al-ahkam, Bab 51, hal 101 cet. Dar al-Jail- Lebanon). Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan” Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangya hari kiamat atau munculnya di tengah-tengah kamu dua belas orang khalifah yang semuanya berasal dari suku Qurasy”  Dari Jabir bin Samrah berkata, “
Sebagian sumber lain yang memuat hadis dengan isi sama tapi dengan redaksi berbeda dapat ditemukan pada:
-    Musnad, Ahmad, jilid I, hal  398, 406.
-    Musnad ath Thayalisi, Abu Dawud, hadis 767 & 1278 hal 105 & 180
-    As Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, Jilid III & VIII, hal 121 & 141

Dari mujahid dari ibnu Abbas (riwayat ini panjang jadi kami pendekan)…”Sesungguhnya washiku adalah Ali bin Abi Thalib, lalu setelahnya adalah kedua cucuku Hasan dan Husain, dan selanjutnya adalah sembilan orang imam dari keturunan Huasain…Jika Husain telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Muhammad, jikaMuhammad telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Ja’far, jika Ja’far telah tiada maka yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Musa, jika Musa telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, jika Ali telah tiada maka yang menggantikannya yang bernama  Muhammad,Jika Muhammad telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Ali, Jika Ali telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang bernama Hasan, dan Jika Hasan telah tiada maka yang menggantikanya adalah putranya yang  bernama al-Hujah Muhammad al-Mahdi, mereka berjumlah dua belas orang imam..

Silahkan merujuk kitab ulama anda (Ahlu sunnah) yang kami sebutkan dibawah :
-    Fakih al-Hamwini asy-syafi’i dalam kitabnya al Fara’id
-    Yanabi’ul Mawaddah, al-Qunduzi, III bab 79 hal 99.
-    Kitab al Manaqib dari watsilah bin Asqa’ bin Qarkhan.
-    Kitab Yanabi’ul Mawaddah al Madzkur, III, bab 76 hal 100 & 103
-    Al Mu’zam al-Kabir, ath-Thabrani, I hal 253

Demikianlah tanpa kami merujuk pada sumber ulama Ahlul Ba’it, ulama Ahlu Sunah sudah mengumumkan siapa saja Manusia piliha Allah yang akan memegang pucuk kepemimpinan pasca Nabi Muhammad saw :

1.  Imam Ali bin Abi Thalib.
2.  Imam Hasan Mujtaba bin Ali
3.  Imam Husain bin Ali
4.  Imam Ali Zaenal Abidin bin Husain
5.  Imam Muhammad Baqir bin Ali
6.  Imam Ja’far Shadiq bin bin Muhammad
7.  Imam Musa al-Kazhim bin ja’far
8.  Imam Ali Ridha bin Musa
9.  Imam Muhammad Jawad bin Ali
10. Imam Ali Naqi Hadi bin Muhammad
11. Imam Hasan Askari bin Ali
12. Imam Mahdi al Qoim

PELANTIKAN KHALIFAH DAN PENGAMBIL BAI’AT UMUM ATAS KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT

Peristiwa terakhir adalah pengambil Ba’iat atas KEPEMIMPINAN AHLUL BA’IT hal ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijah 10 H bertempat disebuah kolam bernama Ghadir Khum, Rasul SAW meminta Ba’iat atas kepemimpinan ALI Bin Abi Thalib beserta Itrah Ahluh Ba’it kepada 70.000 – 120.000 umat muslim pada waktu itu.
Dalam peristiwa Ghadir Qum tersebut Rasulullah mengeluarkan khotbah panjang, bagi yang ingin mengetahui telah diterbitkan dalam bahas indonesia dengan judul :

PESAN TERAKHIR NABI SAW (Terjemahan Lengkap Khotbah Nabi saw di Ghadhir Khum 18 Dzulhijah 10H)  lihat lenteralangit.wordpress.com

Berikut petikannya :

Rasulullah saw bersabda :
“…Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dari lisan kalian tentang pengangkat ALI bin ABI THALIB SEBAGI AMIRUL MUKMIN dan para Imam dari keturunanku dan keturunanya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbinya…”

Khotbah tersebut sering disebut dengan Hadis Ghadir Khum sorang sarjana muslim Dhiyauddin Muqbili  berpendapat ” Apabila kriteria kesahihan hadis Al-Ghadir ini tidak diterima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun dari hadis-hadis lain yang dapat kita terima”.

Tidak kurang 125 perawi meriwayatkannya, berikut sebagian kecil perawi hadis tersebut dari kalangan Pria : Abu Bakar bin Abi Qahafah, Umar bin al Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Abdullah at-Tamimi, Zubair bin awam, Abbas bin Abdul Muthalib, Usamah bin Zaid bin Harithah, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sa’ad bin Abi waqqash, Abdurrahman bin Auf, Hassan bin Thabit, Sa’ad bin Ubadah, Abu Ayyub al- Anshari, Abdullah bin Mas’ud, Salam al-Farisi, Abu Dzar al-Ghiffari, Ammar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, Sumrah bin Jundab, Sahal bin Khunaif, Ubai bin Ka’ab, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Dari kalangan wanita : Asma’ binti Umais; Ummu Salamah; Aishah binti Abu Bakar; Ummu Hani binti Abu Thalib, Fatimah Zahra.

Agar kami pecinta Ahlul Ba’it tidak dituduh membual dan memalsukan hadis kami dapat laporkan bahwa peristiwa Ghadir Khum telah dicatat oleh ulama Ahlu Sunnah dalam kitabnya tidak kurang 335 karya  merekam secara keseluruhan maupun merekam sebagian peristiwa al-Ghadir, berikut penulis dan  karyanya yang merekam peristiwa tersebut :

1. Muhammad bin Jarir  at-Thabari, al-Wilayah, ia melaporkan dengan 75 jalur riwayat.
2. Ibnu ‘Uqdah al-Hamadani, Al-Wilayah Fi Thuruq Hadith al-Ghadir,  melaporkan lewat 105 jalur riwayat.
3. Abu Thalib Abdullah bin Ahmad bin Farid al-Anbari, Thariq Hadith al-Ghadir.
4. Muhammad bin ‘Amer bin Muhammad at-Tamimi al-Baghdadi, melaporkan dari 125 jalur riwayat
5. Ahmad Zaini Dahlan al_makki as-Syafe’i, al-Futuhah al-Islamiah.
6. Syaikh Yusuf an-Nabhani al Beirute, ias-Syaraf al-Muayyad.
7. Sayyid Mukmin Syablanji al-Mishri, Nur al-Abshar.
8. Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar.
9. Abdul Hamid al_Alusi al-Baghdadi, Natsr al-La’ ali.
10. Syaikh Muhammad Habibullah Syanqithi, Kifayat at Thalib
11. Dr. Ahmad Farid Rifa’i, Ta’liqat Mu’jam al-Udaba’
12. Ahmad Zaki al-Mishri, Ta’liqat al-Aghani.
13. Ahmad Nasim al-Mishri, Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami.
14. Nashir as-Sunnah al Hadhrami, Tasynif al-Adzan.
15. Dr. Umar al-Farrukh, Hakim al-Mu’ammarah.
16. Fakhrurrazi, tafsir Mafatih al-Ghaib.
17. Al-Tsa’labi, tafsir Kasyfu al-Bayan.
18. Jalaludi al-Suyuti, al-Durr al-Matsur.
19. al hafizh Abu Na’im, Hilayatu al-Awliya’, (Bab Ma Nuzzila min al-Quran fi Ali)
20. Abu al-Hasan al-Wahidi al-Naisaburi, Asbab al-Nuzul.
21. Nizhamuddin al-Naisaburi, tafsir Ghara’ib al-Qur’an.
22. Muhammad bin Ismail al- Bukhari, Tarikh juz 1 hlm 375.
23. Muslim bin al-Hajjaj, Shahih, juz 2 hlm 325.
24. Abu Daud al-Sajastani, sunan
25. Ibnu Katsir al-Dimasyiqi, Tarikh.
26. Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, juz 4 hlm 281 dan 371.
27. Abu Hamid al-Ghazali, Sir al-’Alamin.
28. Ibnu Abdu al-Bar, al-Isti’ab.
29. Muhammad bin Thalha, Mathalib al-Su’al.
30. Ibnu al-Maghazali, al-Manaqib.
31. Ibnu al-Shibagh al-Maliki, al-Fushul al-Muhimmah.
32. al-Baghawi, Mishabih al-Sunnah.
33. al-khatib al-Khawarizmi, al-manaqib.
34. Ibnu al_Atsir al-Syaibani, Jami’ al-Ushul.
35. Al-Hafizh al-Nasa’i, al-Khasha’is dan Sunan.
36. Al-Hafizh Syaikh Sulaiman al-Hanafi al-Qunduzi, Yanabi’ al-Mawaddah.
37. Ibnu Hajar, al-Shawa’iq al Muhriqah dan al-Minah al-Mulkiyah.
38. Al-Hafizh Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah al Qozwaini), Sunan
39. al-Hakim al-Naisaburi, al-Mustadrak.
40. al-Hafizh sulaiaman bin ahmad al-Thabrani, al-Awsath.
41. Ibnu al-Atsir al Jizri, Usnud al-Ghabah.
42. Sabth Ibnu al-Jauzi, Tadzkiratu Khawashi al-Ummah. hlm 17
43.  Ibnu Abdi Rabbah, al-’Aqdu al-Farid.
44. al-Samhudi, Jawahir al-Aqidaini.
45. Ibnu Hajar al-’Asqalani, Tahzibu al-Tahzib dan Fathu al Bari
46. Jarullah al-Zamakhsyari, Rabi’ al-Abrar.
47. Abu Sa’id al-Sajastani, al-Dirayah fi Hadits al-Wilayah.
48. ‘Ubaidillah al-Khiskani, Du’at al-Huda ila ada’i haqqi al maula.
49. al-’Abdari, al-Jam’u baina al-Shihah al-Sittah.
50. Fakhrurrazi, al-Arba’in.
51. al-Muqbili, al-Ahadits al-Mutawatirrah.
52. al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa.
53. Mir Ali al-Hamdani, Mawaddah al-Qurba.
54. Abu fath al-Nathnazi, al-Khasha’ishal-’Uluwiyyah
55. Khawajih Varisa al-Bukhari, Fashlu al-Khithab.
56. Jamaluddin al-Syairazi, al-Arba’in.
57. al-Munawi, Faidh al-Qadir fi Syarhi al-Jami’ al-Shaghir.
58. Allamah al-Kinji, Kifayatu al-Thalib, Bab I
59. Allamah al-Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-ughat.
60. al-Humawaini, Fara’idh al-Samathin.
61. al-Qadhi ibnu Ruzbahan, Ibthalu al-Bathil.
62. Syamsuddin al-Syarbini, al-Siraj al-munir.
62. Abu al-Fath al-Syahrastani al-Syafi’i, al Milal wa Nihal.
63. al-Khatib al Baghdadi, Tarikh Baghdad.
64. Alauddin al-Simnani, al-’Urwatu li ahli al-Khalwah.
65. Ibnu Khaldun, Muqaddimah.
67. Muttaqi al-Hindi, Kanzu al-’Ummal.
68. Syamsuddin al-Dimasyqi, Asna al-Mathalib.
69. Syarif al-Jurjani al-Hanafi, Syarhu al-Mawaqif.
70. Hafizh Ibnu’Uqdah, al-Wilayah.

Khulasah
Dengan demikian sudah terungkap secara jelas, bahwa pertama  Yazid bin Muawiyah yang perwatakanya bertentangan dengan Islam adalah Imam bagi Ahlu sunnah, sementara  syiah tidak mengakui Yazid sebagai Imam dengan demikian Ahlu Sunnah berdasarkan paparan Putra Paripurna mengikuti  Imam yang Sesat sedang syi’ah mengikuti Imam yang tidak sesat (ini perbedaan mendasar)  Kedua  Bahwa Allah dan Rasulullah telah menetapkan Imam dan para ulama ahlu sunnah sendiri meriwayatkan dalm kitabnya sebagaimana di kutip di atas  syi’ah mematuhi perintah Allah dan Rasulullah untuk mengikuti Imam yang Allah dan Rasulullah saw tetapkan di antaranya Imam Husain adalah Imam, sementara Ahlu Sunnah menurut pengakuan akhi Putra Pari Purna lebih memilih Khalifah atas pilihanya sendiri.
Wallahu alam bhi showab

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: