Kecintaan Abu Dzar pada Ahlul bait

5. Abu Dzar

Demi Allah… Daku kan tetap mencintai Ahll Bait

4. Cinta Ahlul Bait

MULIAKAN kELUARGAMU

3. Muliakan keluarga

KECINTAAN PADA AHUL BAIT

1. Cinta Ahlul Bait

Gandhi Tentang Husain

2. Gandhi

CATATAN RINGKAS SEPUTAR INSYI’AB (GOLONGAN-GOLONGAN) DALAM SYIAH

 

 

 

Fenomena insyi’ab (timbulnya golongan-golongan dalam agama (Islam)) sebetulnya bukan menjadi monopoli Syiah. di tubuh ahlu sunnah sendiri mengalami polarisasi lebih tajam, misalnya untuk kasus di indonesia saja polarisasi golongan itu memiliki variansi yang sangat ragam. secara garis besar ahlu sunnah di indonesia terbagi menjadi dua aras besar  Ahlu sunnah dan Ahlu sunnah wahabi, dan itu terpecah lagi dalam lingkup ahlu sunnah yang tak terpengaruhi wahabi seperti  NU, NII, Hizbuth Tahrir, dan yang dipengaruhi wahabi : Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, LDII, MTA, Tarbiyah, NII-Anshoruth Tauhid, NII-Majelis Mujahidin, Wahabi Salafy, wahaby salafy terpecah lagi, ada yang Salafiyyun Sururiyyun, Salafiyun al Albaniyun, Salafiyun al Jamiyun, Salafiyun pengikut Abdurahman Abdul Khalik dikuwait, Salafiyun pengikut Syekh Bin Bazz dan Syekh Usaimin di Saudi  dan terpolarisasi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil-kecil. Masing-masing memiliki kepemimpinan masing-masing dengan cara pemilihan dan penggunaan gelar kepemimpinan yang berbeda-beda.

Fenomena itu  juga terjadi di tubuh syiah. Sampai dengan masa imam ke tiga  (Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain) syiah masih terkonsolidasi, tetapi setelah masa imam Husain polarisasi itu timbul. dan Insyi’ab itu terjadi sebetulnya disebabkan oleh faktor-faktor luar, bukan faktor doktrinal, yang saya maksud dengan faktor luar adalah, sebagian kaum syiah pasca imam Husain menetapkan masalah Imamah lebih didasarkan pada selera, bukan atas dasar faktor doktrinal (Qur’an dan Sunnah). Tentu saja pernyataan saya ini terlalu menyederhanakan persoalan, tapi itu untuk mempermudah pemahaman dari berkelidanya persoalan-persoalan pada waktu itu. secara pribadi saya membayangkan situasi pada waktu itu sedemikian rumitnya, dorongan idialisme, faktor sosiologis, psikologis, represi penguasa dan lain sebagainya telah mendorong terciptanya sikap pragmatisme dan idialisme dalam tubuh syiah yang saling berhadap-hadapan sehingga menjadi faktor terciptanya golongan-golongan tersebut.

Continue reading

INILAH DAFTAR SEBAGIAN PARA USTADZ PENYEBAR WAHHABISME DI INDONESIA

Perpecahan dan kontradiksi di kalangan Salafy Wahabi, bukti ajaran yang tidak shahih!
Allah Swt  telah pecah belahkan golongan-golangan mujassimmah musyabbihah yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah.
“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka (tauhidnya menyimpang seperti mujasimmah dan musyabihah/mensifati Allah dengan sifat makhluq) dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”  [30:32]
Ini adalah sebuah catatan buat kita untuk mengenali siapa-siapa saja ustadz-ustadz yang menyebarkan ajaran Wahabisme di Indonesia. Tujuan kita mengenali mereka agar kita bisa membentengi kelurga, teman dan orang-orang yang kita cintai tidak jatuh terjerumus dalam bahaya lingkaran  Wahabisme.  Di sini kami  memperoleh daftar sebagian nama  para ustadz wahhabi yang dilansir oleh mereka sendiri (dan jaringannya sudah menyebar ke seluruh Indonesia).  Harap berhati-hati dengan provokasi para wahhabi ini. Para aktifis wahhabisme ini dalam gerakannya memakai kedok Salafi. Mereka tidak memakai nama Wahhabi, tetapi Salafi bahkan terkadang mereka juga menisbatkan diri mereka sebagai Ahlussunnh Waljama’ah, padahal sesungguhnya mereka adalah tidak lebih dan tidak kurang adalah Asli Wahhabi.
Daftar ini di luar kelompok  New-wahhabi/Neo-wahhabi seperti HTI (dalam gerakan pengkafiran-pengkafirannya, juga hobby memusrikkan kaum Muslimin yang berziarah kubur, dan kekerasan-kekerasannya), dan sejenisnya.  Ciri-ciri dakwah mereka bahwa mereka gemar membuat provokasi dan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kafir-musyrik, dan mengharamkan tahlilan, Maulid Nabi Saw, mencemooh ratib,  mengharamkan Tawassul kepada Nabi Saw setelah wafatnya, dan mengkafir-musyrikkan ummat Islam yang bukan wahhabi. Demikianlah mereka adalah para wahhabi yang sejak lama memang menganggap praktik-praktik amaliah kaum ASWAJA  sebagai bid’ah.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.